DI KOPI IRENG

DSCF2072

“sepuluh anak tangga lagi,” katamu

 

tangga yang menyerupai jalan menuju reruntuhan candi

dihiasi remah hujan

udara dingin

dan genggaman tanganmu

yang membawaku

menaikinya satu persatu

 

kudapati meja yang basah

dan dirimu di belakangku

pelayan turun

mengeringkan meja dan kursi kita

yang hendak jadi saksi percakapan

menjelang tengah malam

 

hening sementara

kita asyik memandangi titik-titik cahaya lampu kota

yang setengahnya tertutup kabut

lalu satu kunang-kunang terbang

setinggi pandangan mata

mengitari pohon tanpa nama

kemudian menjauh ke utara

ditelan gelap dan semak-semak

 

percakapan pecah

menjadi renik-renik yang tak bisa kulupa

sesekali kutatap matamu yang kecoklatan

kutangkap satu kesedihan

yang tak bisa kusebutkan

mengalir deras ke detak jantungku

 

gelas dan kopi lebih cepat dingin malam itu

hanya matamu yang bertahan hangat

tiap kali kutatap.

01.12.15

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s