Sepatu Besi

Oleh Epi Siti Sopiah

Saat merapikan gudang belakang. Aku menemukan sebuah benda yang dulu karib kukenakan. Tanpanya aku takkan pernah bisa sampai ke banyak tempat seperti sekarang ini. Sebuah benda yang membuatku mencipta langkah pertama yang direnggut sesuatu.
Sebuah sepatu besi. Sepatu penyangga agar aku bisa berjalan. Bisa kembali berjalan lebih tepatnya. Kemudian ingatan dilesatkan benda ini ke tahun-tahun disaat aku hanya bisa duduk dan tak mampu menggerakkan kedua kaki mungilku. Lalu ingatan dibawa laju pada Mamah, seorang perempuan yang tak pernah menyerah. Seorang yang dengan rajin membawaku kemana pun agar sepasang kaki ini berfungsi seperti semula meski tak lagi bisa sempurna, sesempurna ketika aku dilahirkannya.
Renik-renik ingatan berkelebatan serupa salindia. Silih berganti menampilkan gambar diriku dan potret Mamah. Teringat ketika aku sedang berada di dalam elf yang berdesakkan penumpang, Mamah menggendongku erat dalam ikatan samping panjang. Menyuapiku di antara orang-orang yang wajahnya berbeda-beda, kusut, sumringah, bahkan biasa saja. Orang-orang asing yang hendak menuju sebuah desa yang sama. Desa yang dituju Mamah bersama diriku yang seharusnya sudah bisa duduk sendiri. Desa yang dituju untuk bisa menyembuhkan penyakitku. Ia tak pernah menunda jika satu saja kabar didapatkan tentang sebuah Desa atau tempat mana pun yang bisa menyembuhkan sepasang kakiku yang membeku.
Mamah si perempuan terkuat yang pernah kukenal. Tak pernah gentar, tak menyerahkan takdir berhenti ketika ia merasa remuk diberi kabar, bahwa aku salah satu anak perempuannya terserang polio ketika memasuki usia 2 tahun.
Kekuatan cinta dan kasih sayang Mamah mengalir di sepasang kakiku yang kecil, mengakar doa-doa Papap yang diam-diam kerap kutangkap air matanya jatuh ketika tangannya menengadah ke langit agar anak perempuannya bisa kembali berlarian, berjalan tegak sama seperti anak-anaknya yang lain. Bukan diriku yang dilihatnya saat itu, yang kerap duduk di lantai. Menyendiri, memerhatikan kakak-kakakku bermain sesuka hati, meski tak jarang mereka mengajakku bermain, sekadar menggendongku di punggung kakak tertua, atau bermain boneka kertas bersama kakak perempuanku.
Tapi jauh di dalam hatiku saat itu, aku merasa bingung mengapa sepasang kakiku berbeda dengan mereka. Kebingunganku dijawab Mamah. Dengan segala rupa usaha dan pencariannya menyembuhkanku ke mana saja, sejauh langkahnya mencari tempat-tempat yang dipikirnya ajaib mampu mengembalikan fungsi kakiku. Mulai dari medis hingga alternatif.
Takkan ada satu bahasa yang menandingi kegigihannya mencintaiku. Memberiku sepasang kaki yang kurindukan untuk bisa menapaki bumi.
Hingga suatu hari di kota kelahiran Papap. Di kota hujan aku menemui jalan hidup untuk menjalani serangkaian terapi dan bertemu si kaki besi. Sepatu ajaib yang dikirim Tuhan. Sepatu atas pencarian seorang perempuan yang menahan tubuhku kemana pun. Sepatu yang kini kutemukan kembali di sebuah ruangan. Di rumah Mamah yang miliaran kisahnya jadi kisah di tiap-tiap kekuatan yang jadi bekal perjalanan. Mamah, perempuan yang nyaris tak pernah lemah di mataku. Perempuan dengan seribu kasih sayang, meski cara menyayanginya terkadang membuat aku dan anak-anaknya yang lain terpana. Berbeda. Berbeda dari cara seorang ibu mencintai anaknya.
Kekuatan Mamah hingga detik ini adalah bara yang tak pernah padam direguk usia. Mamah, yang meskipun terkadang sulit aku mengerti, adalah ia yang menjadi malaikat di tiap-tiap langkah.
Tak mudah menjadi seseorang yang kerap ditatap laiknya seorang yang dikenal atau sekadar merasa heran, mengapa aku bisa begitu. Sulit? Tidak. Mudah? Juga tidak, tetapi semua bisa dijalani. Itu semua berkat Mamah, seorang perempuan yang dengan begitu tabah menerimaku. “Kita boleh saja berbeda, tak sama. Itu karena Tuhan begitu mencintai. Menandai anak-anak kesayanganNya dengan kehebatan dalam bentuk lain. Jangan menyerah. Taklukkan apa yang ingin kamu taklukkan. Bukan untuk merasa kamu bisa, namun untuk merasa yakin di tiap langkahmu yang sederhana, yang lajunya lebih perlahan dari yang lain kamu bisa mencapai tempat yang sama dengan mereka. Bahkan lebih jauh dari yang kamu kira, untuk melihat keindahan Tuhan dengan caramu sendiri.”
Aku menyoja dirinya dari kedalaman hati. Memuja kekuatan yang tak pernah retak meski badai kerap menerpa.
Kini, sepatu besi digenggaman. Kuambil dari benda-benda lainnya yang bertumpukkan di gudang yang sedang kurapikan. Kupisahkan sepatu besiku. Kubersihkan sambil melangitkan doa-doa yang mungkin takkan pernah cukup. Takkan pernah bisa menggenapi apa pun yang sudah kudapatkan dari seorang ibu seperti Mamah.
Karenanya, Tuhan memberikanku kekuatan untuk melangkah meski berbeda, meski tak sama. Mamahlah yang menggenapkannya hingga langkah kaki ini mampu melihat dunia dengan caraku sendiri. Surat cinta ini masih jauh dari kata sempurna untuk Mamah yang kerap menyempurnakanku dengan segala caranya mencintaiku.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DearMama yang diselenggarakanNulisbuku.com dan Storial.co

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s