#11 : Yang Melintas di Kepala

13

Hari ini tulisan datang terlambat lagi, tapi ini bukan alasan. Pun dengan beberapa pekerjaan yang harus saya kerjakan seharian ini. Ini janji yang harus saya tepati. Berusaha memenuhi komitmen sejak awal untuk mengikuti #NulisRandom2015 dimulai tanggal 1 Juni hingga 30 Juni nanti, bukan hanya untuk si penyelenggara, tetapi untuk diri saya sendiri. Menaklukkan diri sendiri bukan sesuatu yang mudah, tetapi dengan keyakinan semuanya bisa diatasi. Tak saya bagikan banyak di media sosial, hanya sebatas Facebook dan Twitter. Tema yang saya tulis juga bukan sesuatu yang berat. Bukan karena tema Random lantas saya bisa seenaknya. Tetapi menulislah. Ya, menulislah.

Yang Melintas di Kepala

Hari ini pikiran saya banyak terbagi. Sebagian di antaranya, ingin menulis laporan menghadiri perhelatan Malam Anugerah Cerpen Terbaik Kompas 2014 yang digelar di Bentara Budaya Jakarta [10/06/2015] tentang kekaguman saya pada seorang penulis muda yang memenangkan Cerpen Terbaik Kompas 2014 “Di Tubuh Tarra Dalam Pohon Rahim, Faisal Oddang pemuda yang berasal dari Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan kelahiran tahun 1994. Salut dengan kemampuannya menulis, menuturkan dan tema-temanya bercerita. Kegemarannya membaca sejak kelas tiga SD pada buku-buku milik ayahnya, membawa pemuda ini menjadi salah satu penulis Indonesia yang kemampuannya bisa disejajarkan dengan para maestro Putu Wijaya, Triyanto Triwikromo, Gus TF Sakai, Sapardi, Radhar Panca Dahana, Afrizal, Djenar Maesa Ayu dan sejumlah nama besar lainnya.

Usai menghadiri acara perhelatan di Bentara sepanjang perjalanan saya dan kawan-kawan di dalam kendaraan berbincang tentang banyak hal termasuk mengenai pembunuhan serta pemerkosaan seorang gadis kecil bernama Angeline berusia 8 tahun yang direncanakan oleh orang-orang terdekatnya. Hal ini menimbulkan kemarahan besar dalam diri saya, bagaimana seorang manusia dewasa bisa melakukan hal sekeji itu pada seorang anak yang semestinya di jaga. Manusia dewasa yang isi kepalanya hanya kotoran yang mampu melakukan hal sekeji itu!

Saya tak bisa berbuat sangat banyak selain berdoa dan belajar lebih baik sebagai manusia dan sebagai ibu bagi putri saya yang usianya sama dengan korban. Meski tidak bisa saya sembunyikan kemarahan saya di media sosial tentang si pelaku. Tidak, saya tidak ingin mencoba bijaksana, saya belum sampai ke sana. Bukan berarti saya tidak memahami. Tapi saya manusia. Marahlah ketika saya ingin marah. Bukan mengurangi kebaikan, hanya tak ingin menutupi kebencian yang memang sudah sepantasnya. Saya ingin sekali mengutuknya, tapi saya sadar itu bukan tugas saya. Ada yang jauh lebih berhak melakukannya. Meski kata-kata serapah sudah saya lontarkan lewat dua kalimat di dalam status Facebook saya.

Dalam perjalanan terbayang terus wajah putri saya, bersyukur saya masih bisa menjalankan amanah sebagai seorang ibu, bersyukur apa pun yang terjadi bukan kemarahan dan kebencian yang saya hadirkan dalam hidupnya, bersyukur meski perpisahan antara saya dan ayahnya tidak menjadikannya pribadi yang berbeda meski kuakui anak seusianya ia tampak lebih mandiri. Berdoa sepanjang perjalanan untuk putri saya agar Allah senantiasa melindungi, menjaga dari segala kejahatan yang ada di muka bumi, menyelamatkan hidupnya dan memberkahinya. Yang membedakannya, kali ini saya mencoba berdoa bukan hanya untuk putri saya, tetapi doa-doa ini akan selalu kualirkan untuk seluruh anak-anak yang ada di muka bumi ini. Meski rasanya takkan pernah cukup sekedar doa-doa. Saya akan terus belajar menjadi seorang ibu, teman, kawan, sahabat, guru dan menjadi diri saya sendiri bagi anak saya, juga semoga bagi anak-anak yang ada di sekitar saya [minimal] dan bagi yang lainnya [maksimal].

Ya, karena aku tahu rasanya menjadi ibu. Menghadirkannya ke dunia lewat tangan Allah sepenuhnya adalah amanah. Oh, Allah aku mohon kabulkan doa-doa saya. Mudahkanlah segala hal agar saya bisa terus menjaga amanahmu, jika satu kesulitan datang maka kuatkan saya agar terus bertahan bahwa ini adalah ketentuanMu.
Malam merayap sepi, surah si penenang jantung hati sudah kulantunkan. Kuselip doa untuk Angeline dan korban anak-anak lainnya yang ada di negeri ini.

Besok akan jauh lebih baik. Lebih baik bagi diri saya, bagi putri saya, lingkungan saya, dan seluruhnya. Begitulah hidup mengajarkan saya menerima, di satu sisi saya berada di sebuah acara bahagia, di sisi lain berita sedih menjadi penyeimbang, dan di sisi lainnya melihat jauh lebih dalam ke diri saya sendiri.
Selama apa pun yang terjadi saya hanya mencoba menjadi diri saya yang sebenarnya. Itu saja. Semudah itu hidup mengajariku.

Epiest Gee

#NulisRandom2015

2 thoughts on “#11 : Yang Melintas di Kepala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s