#10 : Nyala Korek Api

Ketika menyalakan korek api, kamu bisa melihat apa pun yang kamu inginkan dalam nyala api yang terang. Gambarlah keinginanmu.

Saya menemukan kalimat itu di buku “Gadis Penjual Korek Api” milik Gadiza. Di halaman ke-50 tulisan di atas menjadi pengarah gambar ilustrasi nyala korek api yang ditengah-tengahnya berwarna putih. Pembaca diminta atau diperbolehkan menuliskan keinginannya. Apa pun itu.

Lalu saya teringat saya kerap menyimpan satu kotak korek api dari batang kayu, dulu saat saya kecil korek api ini digunakan untuk menyalakan kompor sebelum kompor gas ramai digunakan. Sekarang saya menyimpannya untuk sekedar keperluan saja, meyalakan lilin misalnya saat mati lampu.

Saya menyalakan satu batang korek api. Mesiu di kepala korek api terbakar seketika sesaat setelah saya gesekan pada kertas pemantik di sisi kotaknya, berubah menjadi nyala kecil. Sisi terluar dari nyala api berwarna jingga seperti warna senja. Sedangkan nyala bagian terdalam atau terbawah berwarna biru terang, nyala yang paling panas. Tentu saja saya tidak bisa memegang nyala tersebut hingga ke ujung batang, karena jari saya bisa terbakar. Saya berusaha memerhatikan adakah satu titik putih seperti yang ada di gambar buku cerita. Belum sampai sepertiga saya sudah meniupnya. Kenyataanya tidak saya temukan.

Katakanlah yang ada di dalam buku cerita itu sekedar dongeng, tetapi saya memaksa untuk menemukan titik putih itu apa. Saya menyalakan batang kedua tetapi bukan di tempat yang sama, saya beralih ke kamar sebelah yang nyaris tak berjendela, dan lampu kamar kumatikan. Nyala korek api jadi lebih berfungsi, ia menerangi. Di sini saya menemukan.

Titik putih itu serupa terang. Keinginan itu harapan. Harapan adalah titik-titik api yang barangkali harus selalu terjaga, jangan sampai terlalu besar karena bisa terbakar jangan juga terlalu kecil, atau bahkan sampai nyala itu mati. Pemantiknya adalah doa dan usaha. Menyimpan nyala seperti menyimpan banyak harapan agar terus bertahan melihat apa yang ada di sekitar. Bukan untuk diri sendiri tetapi juga orang-orang yang ada di sekeliling.

Buku ini hadiah dari seorang sahabat, yang melebihi saudara. Tahun lalu ia pulang ke Indonesia membelikan buku cerita untuk Gadiza.

Epiest Gee

#NulisRandom2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s