#9 : Ingatan

Sore, apa kabarmu di sana? Masihkah senja bergulir dengan warna yang sama? Pertanyaan ini sudah kuajukan ribuan kali, sambil kudengungkan namamu di desau angin yang kerap singgah di halaman rumahku membelai-belai tanaman ibuku.

Besok aku akan berkunjung ke kotamu. Masihkah berderet-deret kendaraan menyesakki jalan? Dulu, jawabmu “Tiap hari bertambah.” Sama halnya dengan ingatan-ingatan yang terus berjejalan di benakku tentang bagaimana sebuah pertemuan pernah kita helat dengan sederhana. Ingatan yang terus mencengkeram ketika tubuhku melewati batas kotamu. Sesaat angin hangat menyambutku menandakan aku telah tiba di sana.

Udara lembab itu kian hari kian berteman baik meski jarang kutemui. Lalu tatapan matamu yang hangatnya melebihi suhu udara kota menyerbuku seperti biasanya. Aku luruh dalam tatapanmu yang tak pernah bisa digantikan sesiapa meski kini lenyap ditelan ketiadaan.

Tapi bunga-bunga itu, bersamaan dengan riuhnya doa-doa harum merayapi waktu yang tak mungkin aku sisihkan ke dalam laci ingatan meski waktu terus memaksaku. Memaksaku.

Sore, mengapa diam karib denganku? Adakah mantra yang bisa kusebutkan untuk memecahkan diam? Satu kalimat saja. Ya, satu kalimat saja. Biar bisa kutelusuri perjalanan dengan kata-kata yang sebelumnya datang tanpa aba-aba. Aku tak pandai menerka-nerka, menerawang dinding di balik dinginnya sebuah diam. Sore, temani aku menguatkan perjalanan yang terkadang panasnya menyengat lebih dari matahari di pelabuhan, barangkali untuk sekedar melelehkan diam.

Tapi diam terlalu angkuh. Angkuh berdiri di atas puncak berkawan dingin. Hingga lupa diam pernah melemparkan sorot mata yang tak bisa kulupa. Ah, Sore. Beri ia peta. Arah sudah terlalu banyak dibingungkan macam-macam teknologi. Hingga lupa bertanya pada yang kerap bersisian.

Sulit sekali berjauhan denganmu, Sore. Sementara sudah terlalu lama kutatap punggungmu berjalan menjauh, pada cahaya. Sementara teka-teki sebuah diam dan wajah seseorang kamu titipkan untuk kutuliskan lewat kata-kata. Biar kelak kukirim dengan sebentuk perasaan agar selalu ada, tak raib dihilangkan sepi yang menjelma sebuah gambar yang terselip di halaman buku melintasi ruangan, aku dan diam saling bertatapan di batas layar.

Epiest Gee

#NulisRandom2015

3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s