#8 : Mood Booster

1

Pernah nggak kamu merasa kehilangan mood seharian, bahkan di awali saat bangun tidur. Bisa dikarenakan apa saja termasuk kebodohan kita. Hari ini aku mengalaminya. Efeknya bisa kemana-mana, menyelinap diam-diam pada kerjaan, menghiasi beberapa titik air muka dan yang paling parah rembes ke suasana hati.

Mengudap suasana hati yang tidak mengenakan bersamaan dengan menyusun 30 cerpen, dan baru tersusun 17, memecah pola dasar, serta satu layoutan yang rada lumayan hueseeee pasti melelahkan. Inginnya sih terus telungkup di atas tempat tidur, tak berbuat apa-apa selain memejamkan mata, tapi kewajiban menuntun kita pada pekerjaan. Belum lagi harus mengambil sebuah hasil test, yang tentunya bikin deg-degan. Otomatis pasti merasa seperti robot, suasana hati ke kiri raga ke kanan. Yin dan yang mendadak kehilangan arah.

Menjelang matahari tepat ada di atas kepala mood kita masih belum berubah juga? Pasti menjengkelkan, padahal beberapa hal si pengusir mood sudah dilakukan; mencoba mendengarkan lagu kesukaan, bikin makanan yang berbeda dari menu biasanya. Atau kalau lagi senggang, sempatkan nonton film seru di antara celah-celah tenggat waktu. Tapi mood kita tetap di bawah rata-rata. Bawaannya sebel. Nggak tahu mesti berbuat apa. Selain diam dan menyelaminya. Terkesan meratapi sih. Tapi manusia cenderung begitu. Setelah mendamparkan dirinya ke dasar lautan lalu biasanya setelah sadar dalamnya lautan nggak bisa ditempuh tanpa tabung oksigen yang canggih, lantas berusaha kembali berenang ke permukaan sekuat tenaga. Padahal keinginannya sendiri menyelam ke dasar lautan. Dibiarkan kelamaan bisa bahaya.

Nggak nyambung ya? Nggak apa-apa deh, sesekali kita menulis bola liar, yang bisa ditendang kemana pun kaki kita suka. Masuk gawang adalah bonusnya.

Hey! Tapi si moodbooster belum kembali. Meski sudah menyelam ke dasar lautan lalu menyesali dan kembali ke permukaan. Yang ada ketika di atas permukaan kita bernapas setengah-setengah nyaris kayak orang sekarat. Berpikir untuk berenang lebih dekat ke bibir pantai butuh usaha lebih sementara napas sudah tinggal separuhnya.

Kaleuuuum waktu terkadang berbaik hati. Kalau mood lagi jelek biasanya waktu berjalan lebih pelan, merayap seolah tak ingin berlomba dengan satuan detik. Nah, sisa waktu biasanya patut kita tunggu, dengan cara yang lebih tenang. Baca-baca hal lucu, main-main ke media sosial, ngoprek kesukaan, foto misalnya, mengeluarkan buku dari rak lalu susun lagi [hahaha], gunting-gunting kertas warna-warni buat di tempel di buku catatan, putar lagu dengan volume diluar batas kewajaran, terus ikutan nyanyi seolah di atas panggung sendiri, pastikan nggak ada orang sakit di sekitarmu untuk hal yang satu ini, atau bikin minuman paling canggih se-semesta, yang kalau di minum seolah-olah berasa diajak terbang sama Yoichi Ajiyoshi si koki pintar. Ingat! ini bukan formula yang tepat barangkali, tapi setidaknya cobalah.🙂

Membakar dupa aroma terapi, dan tengok ke belakang yang memunggungimu atau yang ada di hadapanmu, ada sebuah pintu? Berjalanlah keluar, ikuti arahnya. Temukan hal yang berbeda dari pemandanganmu selain sebuah layar. Moodbooster pasti kembali, meski belum sepenuhnya. Tapi hal berbeda bisa kita temukan di tempat yang berbeda.

Kutemukan sore ini sesuatu yang berhasil mengunggah moodku menjadi lebih baik, adalah ia sebuah nama yang muncul di pemberitahuan, sebuah nama yang mengingatkan kita pada ratusan hari yang lalu. Seketika itu juga, senyum melengkung dari bibirku, tiba-tiba bahagia, tiba-tiba merasa santai, yang dirasa tidak enak mendadak hilang seketika, ajaib. Udara tampak berwarna oranye lembut, tak lagi abu-abu. Lucu sekaligus aneh.

Kita memang boleh merasa seperti apa saja, tapi jangan sampai lupa mensyukuri apa yang kita dapat hari ini. Di luar sana barangkali banyak orang menghadapi hal yang jauh lebih berat, menghadapi keseharian yang jauh lebih melelahkan dari sekedar pemicu apa yang membuat hari-hari kita sedikit kacau.

Tersenyum lebar pada diri sendiri, menertawakan kebodohan. Lepaskan dan setelah itu hirup napas dalam-dalam lalu hembuskan ke udara, mensyukuri bahwa hari ini kita masih ditemani orang-orang terkasih. Tulisan ini datang terlambat, di sela tugas-tugasku yang menumpuk. Aku taklukkan kesibukan untuk sekedar melempar bola liar. Ya, bola liar.

Epiest Gee

#NulisRandom2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s