#6 : Nasihat Bapak

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah foto yang melintas di beranda Facebook milik kawan baik saya Kojik Untoro. Lalu foto itu mengingatkan saya pada nasihat bapak ketika saya masih remaja. Situasi yang saya gambarkan berbeda dengan gambar yang ada di foto tersebut, tetapi foto itu mengingatkan saya pada kalimat ini.

Jangan jadi emas, jadilah berlian. Di tempat kotor emas bisa terbawa hitam, tapi berlian di tempat kotor bahkan gelap sekalipun ia tetap berlian, bersinar dan kuat.

Yang Lekat

Saat itu bapak sedang mengantar saya ke sekolah menengah, di tengah perjalanan ke sekolah, kami melewati banyak para pedagang yang berjualan di sisi jalan, karena kebetulan rumah kami berada di kawasan pasar tradisional. Pemadangan yang biasa kulihat setiap pagi adalah para pedagang yang menggelar dagangannya di sisi jalan bahkan nyaris menggambil separuh badan jalan menggunakan nampan atau sekedar beralaskan karung-karung goni. Terhampar berbagai jenis sayuran, buah-buahan dan bermacam-macam bumbu. Serta barang dagangan lainnya, dari mulai alat rumah tangga, bumbu kering, aneka jajanan kue, sandal, apa pun sepertinya nyaris dijual di sana.

Sesekali saya mengomentari, “hebat nyak Pap (begitulah saya memanggil bapak saya “Papap”) salut Epimah kanu daragang kieu teh, icalan ti sawengi, teu hujan teu tiris. Terus eta deuih teu sieun kagiles nu dagangna katengah jalan pisan mah. ” Seraya tersenyum kecil dan menempelkan wajah saya lekat pada sisi kaca mobil mencermati dan memerhatikan para pedagang yang kami lewati.

Bapak masih fokus pada jalanan dan tidak menghiraukan pernyataan saya. “Naha sih teu dagang di lebet pasar nyak Pap, pan masih aya Andir da bisi ka Caringin mah tebih teuing, eta weh ameh teu barala kitu matak kalalotor. Gareuleuh.” Saya terus mengoceh, bapak masih saja diam.

Jarak sekolah saya dari rumah lumayan jauh. Saya tinggal di Ciroyom dan letak sekolah ada di Jalan Kartini. Tak jauh dari Patung Persib di tengah kota. Saya tak biasa diantar bapak, biasanya saya pergi sendiri atau diantar Emak (perempuan paruh baya yang mengurus rumah) menggunakan angkot, atau bis kota. Kebetulan hari itu bapak ada di rumah, dan hendak pergi ke Pasar Caringin tempat bapak berdagang setelah dipindahkan dari Pasar Ciroyom yang letaknya di depan rumah dan sempat dirubah menjadi sebuah terminal yang sekarang kembali menjadi bangunan pasar semi modern. Diantar orang tua ke sekolah adalah hal yang jarang saya alami, begitupun pada kakak-kakak dan adik saya.

Melewati batas Andir, jalanan tampak lengang para pedagang memang hanya dibolehkan menggelar dagangannya sampai batas pertigaan antara Jalan Andir dan Ciroyom yang menuju rel. Bapak akhirnya mengeluarkan suara dengan bahasa Sunda bercampur logat Bogor, “Bareto ge Papap dagang kayak gituuuuh neng, ngampar di pinggir jalan. Babarengan jeung mamah, basa Aa aralit keneh. Neng mah belom lahir. Matak Papap males ikut-ikutann ah kalo ada yang protes dari para pedagang soal tempat teh. Kerasa ku Papap usaha ti handap nepi ka gaduh di jongko nggak gampang. Tapi ku leukeun jelema mah. Jadi boga.”

Bapak melanjutkan cerita, betapa perjuangan menuju hari ini memang tidak mudah. Begitulah perjalanan mengukir cara bertahan kedua orang tuaku. Dihadapkan pada banyak keadaan, pasang surut kehidupan. Betapa memperjuangkan sembilan orang anak, yang kini hanya tinggal enam. Satu kakak dan dua adik saya lebih dulu dipanggil Sang Pencipta. Tersisalah kami dua anak lelaki dan empat anak perempuan, adalah perjalanan dari doa-doa dan kesungguhan mereka membesarkan saya dan yang lainnya. Bersekolah di tempat yang baik hingga perguruang tinggi. Membebaskan anak-anaknya memilih jalurnya masing sesuai keinginan dan ahlinya masing-masing meski enam barangkali hanya saya yang tidak berdagang. Nyaris semua kakak dan adik saya berbisnis. Saya yang hanya bergelut di dunia menulis. Begitulah hidup membawa kami pada pelabuhan masing-masing atas didikan orang tua. Tidak, Bapak bukan orang tua yang menyediakan segala bentuk fasilitas dengan mudah. Kami anak-anaknya harus punya usaha ketika menginginkan sesuatu. Termasuk saya, meski fisik saya berbeda dengan kakak-kakak dan adik-adik saya, pun dituntut untuk mampu mandiri. Kami dibiasakan belajar berjualan sejak kecil, semisal kalau sekolah sedang libur saya berjualan es lilin buatan mamah di gang pinggir rumah. Kami anak-anaknya tak pernah merasa terpaksa atau malu melakukan itu, terbiasa melakukan sambil bermain. Atau menitipkan manisan mangga ke warung-warung sekitar. Bapak dan Mamah selalu mengingatkan di luar sana ada banyak anak-anak yang nasibnya kurang beruntung dari kami. Maka apa pun yang dilakukan selama bukan pekerjaan buruk maka lakukanlah dengan kesungguhan. Maka lihat apa yang tumbuh setelahnya. Di mana pun tempatnya.

Kembali ke kalimat, “Jangan jadi emas, jadilah berlian. Di tempat kotor emas bisa terbawa hitam, tapi berlian di tempat kotor bahkan gelap sekalipun ia tetap berlian, bersinar dan kuat.”

Bapak selalu meyakinkan, di manapun kita tinggal yang menentukan adalah sikap kita dan jadilah diri sendiri. Bukan masalah tempat di mana kita tinggal. Kita memang tidak pernah bisa mencegah orang lain berbicara tentang asal usul. Tapi yang selalu bapak tekankan adalah di mana pun kita tinggal jadilah pribadi yang berada di jalurnya. Tumbuhlah meski di celah yang tak sempurna. Karena sesuatu yang baik akan tumbuh baik meski di tempat yang terbatas. Bapak saya memang bukan lelaki sempurna untuk keluarganya, tapi kalimat ini yang selalu saya ingat secara pribadi, saya tidak pernah tahu apakah bapak juga menasihati hal yang sama pada empat kaka dan satu adik saya sebelumnya bahkan pada tiga saudara saya yang lebih dulu pergi.

Apa pun yang di hadapi, menjadi siapa pun kita, jadilah diri kita sendiri, barangkali tak melulu harus menjadi berlian seperti yang dimaksudkan nasihat bapak. Tetapi jujur dan menerima kita apa adanya, terus tumbuh dan bersyukur dengan segala yang kita miliki, menjadi sinar tersendiri di antara celah-celah yang sempit. Kita boleh tumbuh di tempat bau dan kotor. Tetapi menjadi bersihlah di dalam diri. Sinar perlahan jadi pembeda bahwa tempat tak menentukan kita tumbuh menjadi apa dan siapa.

Terima kasih bapak, sehatlah, sehatlah, sehatlah. Semoga Allah senantiasa membahagiakanmu. Tulisan ini tak berbanding apa-apa dengan apa yang dilakukan orang tua kepada saya. Sedikit saja yang bisa saya tulis untuk mengingat nasihat bapak yang melintas di beranda. Terima kasih fotonya, kawan. Kupinjam entah untuk berapa lama. Semoga suatu saat secangkir kopi terlaksana.

Epiest Gee
#NulisRandom2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s