#2 : Mencari Matahari

Untuk menemukan seseorang kamu harus rela kehilangan seseorang.” Aku lupa siapa yang mengatakan kalimat itu padaku, yang kuingat saat itu hujan baru saja pecah.

“Apa tidak bisa diperbaiki lagi?”

“Apanya yang diperbaiki?”

“Hubunganmu dengannya.”

“Hubunganku?”

Pertanyaan itu tak ingin kujawab lebih lanjut. Aku menatap sahabatku yang sedari tadi mengaduk minumannya di hadapanku. Kusapu seluruh ruangan dengan pandangan kosong. Tempat ini, tempat kali pertama aku bertemu dengannya. Yang berbeda kini aku duduk dengan Arin, sahabatku. Aku duduk di sofa yang sama, di balik lemari cangkir yang tingginya nyaris menyentuh langit-langit. Dinding kaca di sisi kiri menampilkan pemandangan serupa saat aku menemukan dirinya di sebuah sudut balkon, dia tengah asyik mengutak-atik kamera dan laptopnya. Aku yang diam-diam mencuri pandang akhirnya tertangkap basah oleh sudut matanya yang tajam. Aku mendadak salah tingkah, kuyup oleh tatapannya.

“Ah sial!” Tatapan itu melelehkan tubuh dan jantungku.

Aku mengalihkan pandanganku pada buku yang ada ditanganku saat itu. Membolak-balik halamannya. Demi Tuhan aku salah tingkah, tertangkap basah.

Lalu kami dipertemukan lagi di sebuah pameran fotografi di Jakarta, atas undangan temanku. Aku datang ke salah satu pusat perbelanjaan terkenal yang bekerjasama dengan salah satu komunitas fotografi terbesar di Indonesia, mereka menyelenggarakan pameran foto untuk menggalang dana. Kutemukan lagi dirinya di sana tengah berbincang dengan salah satu pengunjung di depan sebuah karya. Entah karya siapa. Setelah dia beranjak dari sana, aku mendatangi karya tempat dimana mereka tadi berbincang. Lelaki itu dan salah satu pengunjungnya. Foto berukuran 60 cm x 160 cm dengan posisi landscape menampilkan foto seorang bocah perempuan dengan rambut acak-acakan di salah satu kolong jembatan dengan sorot mata yang tajam menembus lensa kamera, tanpa senyum. Wajahnya kotor karena keadaan sekitar, dan sisi gelap di sekeliling wajah anak itu. Foto hitam putih itu hidup sekali. Kuperhatikan tulisan kecil di sudut kiri bawah bingkai.

Senja Sore. “Kosong.”

Aku menatap foto itu lama sekali. Kami seperti saling menatap. Hingga sebuah suara membuyarkan tatapanku pada objek foto tersebut.

“Kamu suka fotografi?”

“Ah uhm, sedikit.”

Ya Tuhan, lelaki itu menyapaku. Lagi-lagi aku dibuat salah tingkah. Lelaki yang pernah menangkap basah tatapanku kini berbicara padaku. Dia berdiri di sampingku. Kami sama-sama menatap foto yang ada di hadapan kami. Aku tak tahu harus membahas apa. Karena pengetahuanku tentang fotografi hanya sebatas penikmat saja. Tanganku mendadak berkeringat dingin. Sepasang kakiku terasa terpaku di atas lantai itu, rasanya berat sekali melangkah. Dia berdiri di sebelahku sambil sesekali melihat ke arahku.

Diam-diam kuperhatikan dia yang berjarak tak lebih dari satu meter denganku, mengenakan kaos hitam bertuliskan Let’s take a walk and capturing moments dilapis kemeja garis-garis samar berwarna coklat tanah, dengan celana jeans longgar dan tas pungung serta satu tas kamera di bahu kirinya. Tubuhnya tinggi barangkali 178 cm. Memakai sepatu sneakers, dengan rambutnya yang sebahu dan sedikit berantakan. Hidungnya mancung, kulitnya sawo matang tampak begitu terawat, matanya menjorok ke dalam, alisnya tebal bagai sepasang sayap lebar seekor elang yang terbang membentang. Di dagunya tumbuh janggut kasar, serta beberapa titik tahi lalat menghiasi pipi kirinya. Duh, Tuhan pasti sedang bahagia ketika menciptakan dia.

“Apa yang bisa ditangkap dari foto yang ada di depanmu?”

“Eh, uhm, Kosong. Seperti si fotografer memberi judul karya ini”

“Ya, kosong.”

“Terima kasih sudah mengapresiasinya.”

“Oh, ya sama-sama.”

Aku bingung mengapa dia mengucapkan terima kasih padaku. Memangnya siapa dia. Aneh. Tapi
senyum itu. Ya senyum yang akan selalu kuingat. Saat tersenyum dia menampilkan lesung pipit yang menawan. Sempurna sekali.

***

Samar-samar suara Arin terdengar.

“Hey! Kamu ditanya malah melamun.”

Arin melenyapkan kenanganku menyusuri waktu bagaimana aku mengenal Sore. Lelaki yang akhirnya menjadi kekasihkku tiga bulan setelah dikenalkan Fauzan teman yang mengajakku ke pameran itu. Fauzan salah seorang fotografer yang karyanya lolos kurasi untuk ikut dipamerkan dan dilelang, ternyata Sore adalah kawan baiknya. Dunia sempit sekali rupanya. Foto yang kutatap di sana adalah foto hasil karyanya. Pantas saja dia mengucapkan terima kasih saat itu. Lima karyanya dipamerkan saat itu. Foto-foto bernuansa kemanusiaan, dengan balutan hitam putih. Ciri khasnya.

Kami saling mencintai, banyak hal dilalui. Sore merasa beruntung bertemu denganku, begitupun aku, sejak usia empat belas tahun dia sudah yatim piatu, terakhir ditinggalkan ayahnya saat dirinya di bangku kelas tiga SMP. Dia tinggal bersama paman dan bibinya di rumah orangtunya, hingga akhirnya dia memutuskan untuk hidup sendiri sejak SMA. Ayahnya adalah juga seorang fotografer, mewarisi bakat dan beberapa perangkat kamera milik ayahnya. Sore menjadi juru potret keliling sejak SMA, hingga profesi yang dia geluti mampu membiayai kuliahnya di jurusan fotografi sesuai mimpi ayahnya. Dia begitu mencintai fotografi seperti mencintai orangtuanya. Foto hitam putih selalu punya nyawa ungkapnya, jika kita menangkap foto berwarna, kita menangkap pakaiannya, tapi dalam foto hitam putih kita menangkap jiwanya.

Baginya, tak ada istilah sekedar juprat jepret dalam fotografi, sebuah foto hadir, selalu dengan sebuah maksud dan tujuan si pembidiknya dengan mengunakan kamera jenis apa pun, analog, digital, prosumer, poket, atau jenis kamera lainnya kini hadir beragam, bahkan kamera telepon genggam. Membekukannya dalam bentuk cahaya. Untuk disimpan, dinikmati, diperlihatkan, dibagi, atau bahkan menjadi sebuah karya. Ya, karya. Karena memang melewati sebuah proses, dari melihat, menginginkan dan mengabadikannya, untuk kemudian dicetak dan diperlihatkan kembali, atau hanya sekedar untuk disimpan saja dan tidak menjadi apa-apa. Mendapatkan apresiasi adalah bonus. Selebihnya adalah terus berlatih dan mempraktekannya. Selama kita mencintai aktivitas yang satu ini. Fotografi. Karena mengabadikan sesuatu adalah seperti menyimpan kenangan dalam bentuk gambar. Hal yang tidak mungkin bisa kita ulangi sama persis.

“Kenapa kamu nggak coba susul dia ke sana?”

“Mau ngapain?”

“Yaaa, mencari tahu. Apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa dia bisa berubah.”

“Terus?”

“Ya, minimal mencari tahu ke kawan terdekatnya dulu yang kamu kenal di sana. Lumayan kan sambil liburan. Ambil cuti dari kantor barang seminggu.”

“Rasanya percuma. Aku takut. Barangkali dia sudah menemukan seseorang di sana.”

“Percuma itu adalah ketika kamu menghabiskan waktu dengan terus bertanya pada dirimu sendiri, “mengapa semua ini terjadi? Kenapa dia tiba-tiba berubah? Itu yang menghabiskan waktu!”

Aku kembali terdiam. Arin benar, pertanyaan itu takkan menjawab semua kegelisahanku atas apa yang terjadi antara aku dan kekasihku satu bulan ini. Tapi apakah aku harus benar-benar pergi ke sana? Mencari tahu yang terjadi mengapa sebulan ini Sore tak memberiku kabar. Mendadak hening tak bersuara. Pesan pendek kian sepi, whatsapp diam, dan kotak pesan facebook ikut sunyi. Dia seolah menghilang di telan bumi. Sempat kupikir kalau dia sedang sibuk dengan pekerjaannya di bidang fotografi. Tapi takkan selama ini dia mendiamkanku. Kami tak sedang ribut, atau cekcok dalam hal apa pun. Kami sedang baik-baik saja. Hanya ketika aku memutuskan untuk ikut pindah ke kota yang sama dengan Sore, dia mendadak berubah. Entah karena apa.

“Udahlah, kalau emang kamu nggak berniat memperbaiki hubungan ini. Ya, sudahi saja. Cari lagi lelaki yang lain. Masalah selesai.”

“Hmm, kamu pikir segampang itu?”

“Masalah lelaki, ya sembuhnya juga sama lelaki lagi. Banyak orang bilang begitu.”

“Itu untuk sebagian perempuan di luar sana Rin, tidak denganku. Terkadang di saat kita kehilangan, kita bukan merindukan seseorangnya, melainkan banyak peristiwa dan kebiasaan yang dilakukan selama bersama. We miss the moment.”

“Jadi?”

“Aku kehilangan dua-duanya, Rin. Aku kehilangan dia dan kebiasaan kami.”

Aku membenamkan wajah ke atas meja pada kedua tanganku yang melipat. Aku ingin sekali berteriak. “Apa salahku?” Dadaku terasa sesak. Tenggorokanku terasa kering meski dua gelas minuman yang kupesan sejak berada di tempat ini telah tandas, dan bersiap menerima minuman lainnya. Kali ini dipesankan Arin, karena aku tak tahu lagi harus memesan apa. Pikiran tentangnya merajaiku satu minggu ini. Mencoba menghubunginya lewat telepon, tak ada jawaban. Mengirim berpuluh-puluh pesan pendek. Juga tak ada jawaban. Mendatangi tempat ini yang dipenuhi kenangan saat bersamanya membutuhkan keberanian besar. Kalau saja Arin tak memaksaku, mungkin aku tak pernah ingin lagi mengunjungi tempat ini. Meskipun suasananya membuatku nyaman, racikan Frozen Green Tea-nya adalah yang terbaik, serta musik-musik yang diputar tak mengganggu gendang telinga, serta pelayanannya yang menyenangkan. Aku akan kehilangan tempat ini jika Arin tak menarik diriku sepulang dari kantor tadi sore.

“Sampai kapan kamu berteka-teki silang?”

“Entahlah”

“Beranikan dirimu untuk datang, temui, cari tahu. Selesai.”

“Sendiri?”

“Perlu kutemani?”

“Barangkali.”

“Umm, tunggu deadline-ku selesai ya.”

“Tunggu keberanianku juga, ya.”

“Hmm, kamu itu. Selalu saja menjadi orang yang ragu.”

Di balik kaca besar, cuaca cerah sekali. Tapi hatiku mendung bergemuruh. Aku seolah berada di dua tempat. Pikiranku di masa lalu, sementara ragaku berhadapan dengan Arin yang sabar menemaniku, berusaha memecahkan teka-teki menghilangnya Sore.

***

Tiga minggu kemudian, kabar masih belum tiba. Sunyi masih setia. Tak ada kabar apa pun darinya. Akhirnya aku putuskan mengambil cuti. Memaksa Arin ikut bersamaku ditengah usahanya berjibaku dengan penyelesaian buku pelajaran geografi kelas 12 yang sedang dia kerjakan. Aku tak peduli, aku butuh teman untuk datang dan mencari tahu. Dua hari kemudian aku terbang ke kota tempat Sore-ku berada. Kota dengan seratus matahari, terik dan cuacanya yang lembab. Entah mengapa Sore memilih kota ini, kota di bagian selatan pulau antah berantah.

Tiba di sana, kami langsung mencari penginapan. Menghubungi beberapa kawan melalui jejaring sosial yang juga mengenal Sore. Aku belum banyak tahu siapa saja kawannya. Beberapa yang kukenal bahkan nyaris sama denganku, tengah mencari Sore. Hingga akhirnya aku diberi sebuah nomor telepon seseorang. Aku diminta untuk menghubungi orang itu untuk mencari tahu Sore. “Ada apa ini? Mengapa Sore sebegitu enggan menemuiku lagi? Ada perempuan lainkah? Ada apaaa?” Teriak batinku.

Aku berkecamuk, antara marah, kesal, takut, sedih, gelisah, semuanya. Semuanya kurasakan. Arin yang selalu menenangkanku. Ah, perempuan se-tomboy dirinya memliki ketenangan luar biasa seperti itu adalah berkah luar biasa memilikinya sebagai sahabat. Aku tak salah memintanya menemaniku mencari Sore.

Nomor telepon kusentuh. Tersambung, sebuah suara menyapaku. Aku diminta bertemu di sebuah kafe di tengah kota. Dia menyebutkan tempat dan alamatnya. Aku tak membuang waktu. Arin menatapku saat di dalam taksi. Dia diam tapi benaknya berkata banyak. Hingga disebuah kemacetan, suaranya pecah.

“Aku yang memaksamu untuk mencari tahu, agar siapa tahu bisa diperbaiki. Tapi jika sesuatu terjadi, kamu siap bukan?”

“Apa pun. Aku harus siap yang terpenting aku tahu apa yang terjadi dengan Sore.”

“Firasatku tak enak Sal.”

“Barangkali begitu jika sedang mencari tahu, semua firasat akan menjadi tak enak. Seperti makanan basi yang tak layak konsumsi.”

Arin tiba-tiba memelukku. Suasana mendadak melankolis. Tuhan, aku ingin dikuatkan. Apa pun yang kudapatkan nanti adalah jawaban yang selama ini di cari. Aku mencari Sore-ku yang hilang.

Setengah jam kemudian kami tiba ditempat yang dituju. Pramusaji membawaku ke meja yang telah di pesan, di sana seseorang duduk memunggungi kami yang tengah berjalan ke arahnya. Dia tampak gelisah. Begitu kami mendekat, dia membalikkan badan dan berdiri. Memperkenalkan diri.

***
Apa yang kudapati rasanya tak mungkin. Semua seolah membeku. Arin menangis sejak tadi. Memelukku. Tapi air mataku membeku. Mendadak semua serba dingin. Sementara udara di luar sana panasnya melebihi batas wajar. Ini musim apa, entahlah.

Sore, mengalami kecelakaan usai menerima telepon dariku. Ya, aku ingat dia sedang mengendarai motor saat itu. Sebuah truk besar menghadangnya dari arah berlawanan. Begitu kata saksi mata di tempat kejadian yang dituturkan lelaki ini padaku. Kecelakaan maut tak terelakkan, jiwanya melayang bersama dua bingkai foto yang baru saja dia ambil dari tempat cetak. Serta dua buah kameranya yang remuk menjadi saksi mati peristiwa itu. Foto bergambar wajahku yang sering diam-diam dia ambil saat kami masih bersama menghabiskan waktu. Barangkali foto itu yang hendak dia pasang di rumah sewanya di tepi pantai sekaligus studio fotonya yang baru saja dia buka beberapa bulan ini, selain pekerjaannya sebagai fotografer salah satu website pariwisata. Dia pernah mengatakan sebelum kejadian itu, bahwa foto wajahku akan menghiasi dinding rumah sewanya. Kupikir dia sedang gombal.Tak kusangka percakapan itu adalah kali terakhir aku mengkhidmati suaranya.

Sore-ku tiada. Matahariku tenggelam tanpa kabar. Tak ada pesan perpisahan, tak ada tanda, tak ada apa-apa. Dia pergi di panggil takdir. Aku masih butuh matahariku, melihat pagi di pantai, melihat senja di bukit, dan melihat terik di atas danau. Aku ingin matahariku, kembali.

Di meja itu, aku merasa kosong. Lelaki yang menjelaskan pencarianku, menyerahkan sesuatu. Selembar kertas kusut di dalam sebuah bingkai, ada beberapa bercak noda kecoklatan menembusi kertasnya. Aku yakin kertas ini diberikan saat Sore meregang nyawa. Benar saja. Lelaki itu mendapatkan kertas di ruang UGD tempat dimana Sore menghembuskan napasnya. Selembar puisi dengan namaku di sana.

Gambar Bunga Matahari
untuk—Salindri Ayu

Aku membakar garis-garis rumit di telapak tanganku
merubahnya menjadi gambar bunga matahari
saat panen tiba kuurai setiap helai kelopak bunganya
menjadi sepi, menjadi kesunyian,
menjadi hening yang paling di damba
menjadi warna kuning di matamu
bersinar, menyala-nyala untuk temukan jalan pulang di labirin sebuah pulau.

Aku membakar garis-garis luka di atas telapak tanganku
usai terbakar, kutebarkan abunya ke udara.
menjadikan jelaganya pena, menuliskan sebuah pesan,
menjadi surat yang paling panjang,
mencipta kisah tentang dirimu.

Aku membakar garis-garis air mata di atas telapak tanganku
mengeringkannya sepenuh cinta. Cinta yang selalu datang darimu perempuanku. Kamu.

-SS-

Tunai sudah pencarianku. Matahari tenggelam melesak di jantungku. Selamat jalan Sore. Cinta kita adalah perjalanan teka-teki. Air mataku menderas di saat matahari masih tinggi.

“Aku mendapatkan Sore-ku, Rin. Dia tak kemana-mana, hanya berpindah ke tempat yang paling abadi. Ingatanku.”

Kubenamkan wajahku di bahu Arin. Tubuhku bergetar. Larut bersama air mata.

***

Epiest Gee

#NulisRandom2015

2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s