#1 : Juni

4

Apa kabar Juni? Apakah hujan masih amnesia pada musimnya? Satu Juni, dibuka hujan tengah malam. Para pedagang di depan gerbang lagi-lagi mesti bersabar di atas barang dagangan. Sementara yang kunikmati adalah tiap-tiap butirnya jatuh dan berirama di atas atap kamarku.

Juni, puisi belum kutulis juga, meski mereka berlarian di kepala tapi aku masih kesulitan menangkapnya. Kubiarkan mereka bermain-main di beranda ingatan tentang banyak hal yang kulalui sebelum kau kutemui. Jemariku masih betah merangkai ruang-ruang kecil hanya untuk kata-kata yang berusaha kumegerti.

Apa yang ada di kepalaku malam ini hanya sederetan kata-kata residu dari perjalanan yang telah kutempuh beberapa saat lalu. Sebelum senja yang lagi-lagi ditelan hujan.

Pertemuan di sebuah kedai kopi tadi sore sempat membawaku ke waktu-waktu lalu, betapa aku akhirnya mampu melewati sesuatu yang pernah kuhindari dalam ingatan. Waktu yang menempatkanku pada satu titik rapuh, terapuh dalam hidupku. Meski benakku sedang terbata bagaimana hal yang tadi kulewati kembali diceritakan lewat kata-kata. Biarlah kebingungan jadi kawan untuk sementara hingga ia berlalu.

Juni, jangan bingung dengan ceritaku ya. Jangan banyak bertanya dulu. Saat ini aku hanya berusaha menepati janji diri berjalan hingga ke puncak kata-kata melewatimu. Menaklukan Juni dengan 30 tulisan. Tak usah menebak-nebak apa yang hendak kusampaikan di sini. Di tulisan pertamaku malam ini.

Jangan bingung.

Epiest Gee

#NulisRandom2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s