Rumah

“Jika sepuluh orang ingin memasuki sebuah rumah,
dan hanya sembilan yang menemui jalan masuk,
yang kesepuluh tidak harus mengatakan,
Ini sudah takdir TUHAN.
Ia harus mencari di mana kekurangannya.”

― Rumi

Barangkali aku adalah orang yang ke-sembilan itu, yang disebutkan oleh Rumi. Di keheningan yang luar biasa. Aku yang tengah dalam pencarian “rumah” adalah diriNya dan dirimu yang senantiasa menjadi. Anggap saja ini kegilaanku bicara soal rumah. Ke-sok-tahuanku.

Di sini aku bebas bicara apa saja. Tanpa harus menjadi pemenang, tanpa harus mengalah, tanpa harus berlomba, tanpa harus berlari karena jarak yang kita tempuh sama, yaitu kematian. Tak lebih dari itu, yang membedakan hanyalah “waktu”. Mahluk yang tiada henti berdetak, meski kematian dan kelahiran dia catat dengan rapi dalam setiap perjalanan detik ke menit. Jam ke hari. Minggu ke bulan dan tahun ke tahun hingga entah kapan.

Di sini pun aku tak harus harus menjadi sesiapa selain diriku sendiri. Daun kata-kata senantiasa berguguran dari jari jemari diterbangakan malam ditemani lagu-lagu kesayangan. Apalagi? Adalah dia yang terlelap di sudut ruang tak jauh dari tempat aku menumpahkan ratusan kata, seorang gadis kecil. Teman berpetualang di duniaku.

Ah, apa kabar rumah kata-kataku? Lama tak kusapa dirimu. Baik-baikah? Masih setiakah? Rindukah? Adakah keheningan yang masih sama? Yang selalu menjadi irama di sini di detak jantungku tanpa perlu didengar telinga.

Lama tak kuisi rumah yang selama ini menerimaku kapan saja dan apa adanya. Rumah yang menampung segala kegelisahan dan kerianganku yang kudapat dari berbagai sudut tempat yang kujelajah dengan jejak sederhana di sini, di duniaku yang berjarak dimensi denganmu. Maaf kalau aku sekian lama tak menjenguk dirimu, bukan karena pekerjaan yang menumpuk itu, bukan. Bukan pula tak ada gambar yang biasa kugantungan di sini. Hanya kata-kata belum kutemukan di duniaku yang terkadang riuh, terkadang sepi tak terkira. Entah bersembunyi di mana, barangkali bersembunyi pada buku bacaan yang dituntut oleh pekerjaanku, terselip di antara sajak-sajak suasana yang kutemui setiap kali keluar gerbang jati. Di dalam bercangkir-cangkir teh yang kutandaskan bersama kawan, di atas meja bersama buku-buku yang terkadang membuat kepalaku mendadak pening, mengalahkan kepusingan si Barbie.

Tapi kini aku kembali. Kembali pada kebiasaanku duduk di halaman belakang, memerhatikan apa saja yang telah tumbuh di sini. Jejak senja yang bertaburan, gantungan gambar dari setiap perjalanan kecil. Hujan yang amnesia pada musimnya. Pertunjukan yang masih begitu-begitu saja. Buku yang berceloteh tanpa koma.

Barangkali kelak dirimu menjadi nyata, bisa kutempati dengan baik, kutata dengan sederhana di sini di duniaku sendiri. Biarlah saat ini kamu menjelma jarak, tak apa. Selagi jemari masih bisa membuatku datang ke padamu. Berkendara kalimat-kalimat kecil, dan berbekal ingatan.

Aku kembali di sini tengah mencari sajak, yang lupa kutaruh di mana terakhir kali.

Biarkan aku duduk sendiri di sini di halaman belakang ini, jangan bertanya apa kabarku, dirimu pasti jauh lebih tahu kabarku. Biar kutatap senja-senja yang sering kehilangan dilewati hujan. Biar kunikmati segelas coklat hangat di atas meja bersama foto ini yang hendak kugantungkan.

Biarkan aku sejenak di sini.

05 Mei 2015

epiestgee

2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s