Kepada Penunggang Kuda Negeri Malam

13

Pertemuan

Dalam sebuah pertemuan dan perpisahan orang dapat menyemai ragam gagasan atau ide dengan berbagai cara, barangkali dari kejadian pribadi dan orang lain dengan segala bentuk refleksinya, kejadian yang tengah terjadi di dalam negeri atau di belahan dunia lainnya, pembicaraan saat diskusi, obrolan di warung kopi, ulasan di media massa, usai pementasan atau dari hal yang tak terduga sebelumnya seperti sebuah buku puisi yang ada di dalam tas saya sore itu.

Tulisan sederhana ini adalah tulisan pertama saya di tahun 2015 selain puisi-puisi yang masih tersimpan di dalam berkas komputer yang hendak berjuang menemukan rumahnya. Saya ingin mencoba merekam apa yang saya alami bersama kawan-kawan ke dalam tulisan agar beberapa ide dan gagasan yang saya temukan dari berbagai sudut dapat dikenali lagi, barangkali dikritisi, dicermati atau bahkan dimaknai ulang. Barangkali. Anggap saja saya sedang sangat “sok tahu”.

Jum’at, 2/1/2015. Hujan masih karib meski tak sederas diwaktu siang, jalanan masih terlihat macet tapi tak sepenuh hari-hari sebelumnya. Sore ini Majelis Sastra Bandung (MSB) kembali menggelar tadarus puisi yang (dulu) rutin dilakukan setiap satu minggu sekali. Program Tadarus Puisi sempat terhenti beberapa waktu dikarenakan permasalahan tempat dan kesibukan para anggota MSB lainnya. Waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB, tak lama usai Ashar kami memulai (lagi) tadarus puisi, yang kali ini direncanakan berlangsung dua minggu sekali. Di sana telah hadir Kyai Matdon selaku ketua MSB, Rezky Darojattus Sholihin dan kawannya Isma, Trisna Iryansah dan Aulia, serta saya dan kemudian disusul Anisa Isti yang datang terlambat karena terjebak macet di daerah Hegarmanah dan Cihampelas.

Di kafe itu kami duduk di selingkar bangku paling belakang, di dekat tangga menuju toko buku yang berada di lantai atas Gedung Indonesia Menggugat. Saya mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas saya, saat itu saya tak membawa puisi untuk dibahas, sekedar berjaga-jaga jika di antara kami tak ada yang membawa puisi setidaknya kami bisa membahas buku karya dari Ahda Imran “Penunggang Kuda Negeri Malam” yang memuat 70 sajak terpilih. Saya simpan buku itu di atas meja, tak jadi dibahas karena pada akhirnya kami membahas puisi milik Aulia yang berjudul “Menanti”. Pembahasan dibuka oleh Kyai Matdon, kemudian Rezky, Trisna dan saya. Anisa masih belum juga datang, di sela-sela diskusi munculah Kang Soni Farid Maulana yang memberikan sedikit masukan mengenai pengeditan puisi.

Menjelang pukul setengah lima sore sambil bertadarus kami menikmati minuman yang kami pesan di kafe GIM dan camilan kue yang saya bawa dari rumah, Anisa muncul dan diskusi terus berlanjut. Ditengah-tengah diskusi Kyai Matdon dan Soni Farid Maulana pamit beranjak lebih dulu, setelah pembahasan dari mereka selesai. Sementara kami masih tengah asyik mendiskusikan puisi, khusyu bertadarus. Hingga akhirnya diskusi berakhir, walaupun tak benar-benar berakhir. Jam menunjukan pukul lima sore, Aulia bersegara pamit pulang. Tinggallah kami, Rezky dan Isma, Trisna, Anisa dan saya. Selain ngobrol puisi kami juga saling bertanya kabar, karena akhir-akhir ini kami jarang bertemu, selain saya dan Anisa yang masih terkadang bertemu di sela-sela kesibukan kami. Tak lama dari itu di meja lainnya ada Kang Malik Mift selaku redaktur Galura, kami bersepakat mengundang kang Malik untuk bergabung di meja kami sambil ngobrol ringan seputar puisi dan sastra.

“Saya salut dengan kegiatan tadarus puisi yang kalian lakukan, adalah hal jarang yang dilakukan anak-anak muda penggiat sastra belakangan ini, apalagi di sastra Sunda. Nyaris tak terdengar anak-anak muda mendiskusikan sastra Sunda. Bahkan penulis muda Sastra Sunda pun belum muncul yang baru selain Yogi Yogaswara, Deri Hudaya dan yang lainnya.”

Beberapa dari kami sempat menyanggah semacam pujian yang dilontarkan Kang Malik, karena kami pun baru memulai lagi tadarus puisi setelah setahun kemarin benar-benar terhenti.

Dalam obrolan sederhana kami Kang Malik menguraikan tentang proses kreatif menulis baik dalam Sastra Sunda ataupun Sastra Indonesia, dia kerap memerhatikan kebanyakan dari para penulis muda selalu memungut imajinasi laiknya mementik bintang di langit, dan selalu menggunakan kata-kata yang itu-itu saja, kurang menggali kata-kata baru. Selain itu juga penulis muda atau penulis baru lupa bahwa tulisan pun dapat hadir dari lingkungan sekitar yang dekat dengan mereka, sehingga kerap menghasilkan karya yang “melulu” imajiner. Padahal segala bentuk tulisan hadir dari sesuatu yang nyata dan ada di sekitar kita.

Obrolan kami sore itu makin mengasyikan ditambah “bodoran” Kang Malik yang membuat kami tertawa, seolah menjadi sajian penutup diskusi yang mengenyangkan sekaligus manis. Akhirnya Adzan Magrib dilantunkan dari mesjid yang ada di luar Gedung Indonesia Menggugat, Kang Malik juga akhirnya pamit kembali pada kawan-kawannya di meja lain. Rezky pamit hendak mengantar kawannya Isma lalu berniat kembali ke GIM untuk kembali bergabung bersama kami. Saya dan Trisna melangkah menuju mushala. Anisa masih asyik menunggu meja, sambil membaca Penunggag Kuda Negeri Malam yang sempat kami lupakan di tengah diskusi.

 

Perjalanan Kecil

Usai dari mushala saya dan Trisna kembali ke meja. Anisa masih asyik membaca buku kumpulan sajak itu. Sambil menikmati sisa camilan obrolan ringan mengalir di antara kami, hingga entah karena apa kami memutuskan untuk membaca 70 sajak Ahda Imran secara bergiliran. Awalnya Anisa memutar botol plastik sisa minuman Rezky, seolah kami sedang bermain “truth or dare” pada siapa botol itu berhenti maka pada dialah giliran membaca. Saat itu Rezky masih belum datang sambil menunggunya kami memulai pembacaan lebih dulu. Diawali Trisna, Anisa, dan saya begitu seterusnya hingga akhirnya Rezky datang menjelang Isya. Kami bebas membaca sajak yang ada di buku tersebut secara acak, yang pasti kami akan membaca ke-70 sajak tersebut hingga tuntas.

Mengingat kami belum makan malam, kami memutuskan untuk berpindah tempat. Karena di GIM bakso yang hendak kami pesan sudah habis, akhirnya kami memutuskan untuk menyusuri Braga dengan berjalan kaki. Rintik hujan masih setia semenjak sore.

Perjalanan kami di sepanjang trotoar Jalan Perintis Kemerdekaan diwarnai oleh kehadiran Untung Wardjojo yang tengah mengayuh sepedanya, barangkali dia hendak pulang ke rumah, namun suara Rezky ditangkap dengan cepat oleh Untung sehingga akhirnya dia mengayuh sepedanya ke tepi trotoar untuk akhirnya bergabung dengan kami menyusuri Braga. Untung menuntun sepedanya, kami berjalan pelan menikmati malam dan titik-titik hujan.

Kami menyebrang ke arah Bank Indonesia menuju Braga. Tepat di halaman depan Bank BJB, tiba-tiba Anisa menantang Rezky untuk membaca di sana. Awalnya Rezky menolak dengan alasan ragu dan malu, karena volume kendaraan di jalan itu lumayan padat dan merayap. Belum lagi satpam yang berjaga di sisi kanan. Tapi kami menyemangatinya bahwa kami akan membaca di tempat lainnya sepanjang jalan menuju pencarian tempat makan malam. Akhirnya Rezky membaca. Ditengah perjalananan suara palang pintu kereta berbunyi. Entah kereta apa yang hendak melintas malam itu, kami tak sempat memerhatikan. Untung sudah terlebih dahulu berada di seberang lintasan sementara saya dan ketiga teman lainnya berdiri menunggu kereta melintas.

Kami daulat Anisa untuk membacakan puisi bagi para pengendara yang menunggu dibalik palang pintu kereta. Awalnya Anisa juga tampak malu-malu tapi akhirnya dia membaca, dan beberapa dari pengendara motor yang dekat dengan trotoar memerhatikan Anisa yang tengah membaca dengan latar suara kereta. Saya merasa malam itu magis sekali.

Kereta berlalu, palang terbuka, kami berjalan menyebrangi rel dengan khusyu. Tiba di depan Bank Mandiri, Anisa meminta saya membaca di sana. Tepat di sisi papan besi berwarna kuning yang bertuliskan, “dilarang parkir di area ini”. Saya membaca di sana, tengah membaca saya baru sadar ada beberapa orang yang menonton saya yang sedang berdiri di sisi kiri menunggu sesuatu entah menunggu apa. Saya terus membaca.

Perjalanan ke tempat makan masih dalam pencarian, pembacaan 70 sajak terus berlanjut. Tiba di depan gedung Landmark, Trisna dengan aksi teatrikalnya kembali membaca. Tiga orang yang melintas dihadapan kami sempat berhenti dan menonton aksi Trisna.

Beberapa gedung dibelakang kami menjadi saksi. Udara malam kian dingin, sampailah kami di jalan Braga, orang-orang masih ramai menikmati gelap dalam balutan lampu-lampu kota. Saat itu menunjukan pukul delapan malam. Gang, tempat makan yang kami tuju kebetulan tutup, mungkin sedang menikmati libur tahun baru sekaligus libur sekolah anak-anak mereka. Akhirnya kami menyusuri trotoar yang sedang dibenahi kembali ke gang sebelumnya yang menyajikan nasi goreng dan jenis masakan seafood. Sebelum membaca kami difoto di sisi kanan dinding gang yang berwarna-warni, menggunakan timer dengan penopang meja makan yang disediakan tukang nasi goreng tersebut. Kami akhirnya memutuskan makan malam di sana. Kecuali Anisa Isti yang tak jadi memesan Nasi Ayam Saus Mentega karena terlalu lama diproses. Puisi terdengar di antara pengunjung tukang nasi goreng, yang sedang menikmati pesanannya di atas meja atau yang sedang menunggu pesanan di bangku lainnya. Penunggang Kuda Negeri Malam, memacu sajaknya di sana. Beberapa orang memerhatikan, mendengar dan ada juga yang sambil lalu, kami tak memedulikan, kami hanya membaca. Memacunya dengan gembira tanpa beban.

Karena Anisa yang tak jadi makan malam di sana, akhirnya saya dan kawan-kawan memutuskan untuk berpindah tempat, mengingat 70 sajak masih belum selesai di bacakan. Sebuah mini swalyan yang terletak di samping sebuah Bar dan Lounge, tak jauh dari tukang nasi goreng tadi, menjadi pilihan kami sebagai tempat persinggahan berikutnya. Di bangku dan kursi bagian halaman mini swalayan, kami memutuskan untuk mengopi dan menemani Anisa yang memutuskan untuk makan malam di sana. Sajak-sajak melaju berputar di antara kami. 70 sajak mulai dari “Di Pintu Angin” sampai “Dermaga Yang Terbakar” telah khatam malam itu kami bacakan. Sekedar membacakan.

Malam yang menyisakan kegembiraan sederhana dengan sebuah perjalanan yang tanpa rencana bergulir hingga menjelang tengah malam. Dalam perjalanan ini saya menemui banyak peristiwa, turis-turis asia yang lalu lalang dengan ragam bahasa yang lamat-lamat menyangkut di pendengaran saya. Pengemis yang menggerutu sambil menggendong anaknya, perempuan pengutil yang aksinya dihentikan si penjaga swalayan, gadis-gadis muda berpakaian minim, mobil-mobil mewah yang parkir di depan sebuah bar, disusul sebuah kendaraan yang isinya gadis-gadis cantik dengan dandanan penggoda. Mata saya memindai setiap kejadian malam itu. Barangkali kawan-kawan saya juga begitu. Pukul sebelas malam, kami pulang. Rezky bersama Anisa, saya menumpang pada Trisna yang rumahnya searah. Untung setia bersama sepedanya, melaju lebih dulu, khusyu mengayuh.

Sampai ke rumah, mencuci wajah, menyalakan komputer, memindahkan foto, dan mengunggahnya ke jejaring Facebook untuk sekedar berbagi. Saya dan Anisa masih berbincang melalui WhatsApp. Entah pukul berapa saya lupa, beberapa jam setelah menggunggah dan saya yang masih terjaga. Mendapati komentar si Penunggang Kuda Negeri Malam. Saya sungguh kehilangan kata-kata. Betapa puisi dan ruang saling menemukan takdirnya, seperti buku tersebut yang saya bawa di dalam tas sore itu, yang tergeletak di atas meja, dan yang saya dan kawan-kawan bacakan dengan sukacita. Seperti sebuah doa, sajak-sajak itu melangit menemui seseorang yang ditujukan penulisnya di hari yang tepat tanpa pernah kita duga. Tanpa pernah kita ketahui.

Terharu sekali melihat teman-teman membacakan puisi dari kumpulan “Penunggang Kuda Negeri Malam”. Mungkin hanya sebuah kebetulan kumpulan puisi itu yang teman-teman pilih pada tanggal 2 Januari kemarin. Tapi bagi saya apa yang teman-teman lakukan dengan pembacaan puisi dari kumpulan itu menjadi ketakjuban, betapa puisi selalu memilih takdir dan ruangnya sendiri. Kumpulan itu saya dedikasikan bagi Zikir Samudera, jagoan kecil saya yang lahir untuk terbang kembali ke langit, 2 Januari 1995. Ia berulang-tahun di langit tepat pada hari ketika teman-teman membacakan kumpulan puisi miliknya. Terimakasih, teman-teman, sebagai ayahnya, saya terharu sekali.”

Begitulah komentar penyair Ahda Imran pada album foto yang saya beri judul “Membaca Ahda Imran di Sepanjang Jalan Braga”.

https://www.facebook.com/epiest.gee/media_set?set=a.10152744861284221&type=1

 

Epiest Gee

Januari 2015

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s