[Katanya] Dari Pada Sekedar Juprat Jepret

“The camera is an instrument that teaches people how to see without a camera.”
― Dorothea Lange

Sekedar Catatan Ringan

Bagi saya sebenarnya tak ada istilah sekedar juprat jepret dalam fotografi, sebuah foto hadir, selalu dengan sebuah maksud dan tujuan si pembidiknya dengan mengunakan kamera jenis apa pun, analog, digital, prosumer, poket, atau jenis kamera lainnya kini hadir beragam, bahkan kamera telepon genggam. Membekukannya dalam bentuk cahaya. Untuk disimpan, dinikmati, diperlihatkan, dibagi, atau bahkan menjadi sebuah karya. Ya, karya. Karena memang melewati sebuah proses, dari melihat, menginginkan dan mengabadikannya, untuk kemudian dicetak dan diperlihatkan kembali, atau bisa hanya sekedar untuk disimpan saja dan tidak menjadi apa-apa. Mendapatkan apresiasi adalah bonus. Selebihnya adalah terus berlatih dan mempraktekannya. Selama kita mencintai aktivitas yang satu ini. Fotografi. Karena mengabadikan sesuatu adalah seperti menyimpan kenangan dalam bentuk gambar. Hal yang tidak mungkin bisa kita ulangi sama persis.

Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh salah seorang fotografer professional Ibu Susan Sontag, “All photographs are memento mori. To take a photograph is to participate in another person’s (or thing’s) mortality, vulnerability, mutability. Precisely by slicing out this moment and freezing it, all photographs testify to time’s relentless melt.” Atau juga yang dikatakan oleh disainer yang berasal dari Jerman, Tuan Karl Lagerfeld yang berkata bahwa “What i like about photographs is that they capture a moment that’s gone forever, impossible to reproduce.” Hal-hal yang tak bisa terulangi dapat dibekukan ke dalam sebuah cahaya menjadi sebuah gambar yang dapat dinikmati kapan saja baik oleh pemiliknya atau bagi yang sekedar melihatnya adalah hal yang bisa membuat berbahagia sekaligus bersedih dalam satu waktu. Kagum dan benci, juga terkadang membuat orang tertawa bahkan mencibir dalam waktu bersamaan. Semua tergantung pada bentuk gambar dan persepsi yang melihat foto itu.

Menjadi wartawan foto, dan fotografer profesional, pertanyaannya adalah apakah “melulu” yang memiliki kamera dengan segala perangkatnya yang gemar mengambil dan menghasilkan gambar harus selalu indentik dengan dua profesi itu? Bagi saya pribadi tidak. Di zaman sekarang dengan segala kemudahan teknologi, orang-orang bisa belajar apa saja dan mengembangkan hobinya, memanfaatkan banyak media untuk belajar sesuatu. Termasuk fotografi. Belajar pada orang-orang serta guru-guru yang tepat yang mau dengan senang hati senantiasa berbagi ilmunya dengan saya yang amatir dan ribuan orang lainnya dengan latar profesi berbeda-beda yang juga menggemari fotografi.

Ada beberapa orang yang kerap mengatakan atau berkata pada setiap karya fotografi, “dari pada sekedar juprat jepret, mending jadi wartawan, atau sekalian jadi fotografer.” Bagi saya itu adalah pemikiran yang sangat instant. Bentuk fotografi itu sangat banyak, ada yang senang memotret pemandangan, ada yang senang memotret peristiwa, ada yang memotret model, ada yang senang memotret pertunjukan, ada yang khusus memotret pernikahan, ada yang memotret situasi di jalan, memotret makanan, memotret lingkungan sekitar, mungkin juga termasuk foto ‘selfie’ yang sedang ramai dilakukan, dan banyak hal lainnya. Dan semuanya memang membutuhkan waktu panjang untuk sampai benar-benar memahami.

Sekarang dengan banyaknya media sosial yang tersedia belakangan ini adalah menjadi keuntungan masing-masing bagi siapa saja yang gemar memotret untuk lebih mudah belajar di berbagai komunitas baik nyata maupun dunia maya meskipun keduanya ada di dunia yang sebenarnya dan menempatkan karya itu, belum lagi banyaknya aplikasi-aplikasi smartphone yang lebih memudahkan bagi siapa saja yang menyukai fotografi sebagai bentuk audio, visual digital  buku harian perjalanan, dan pada akhirnya fotografi banyak lahir dari orang-orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Bukan hanya sekedar fotografer dan wartawan foto. Bagi saya pribadi adakalanya sesekali saya melihat karya yang bagus muncul dari seseorang yang tidak berprofesi sebagai fotografer atau wartawan. Tetapi dari merekalah para pakar fotografi; fotografer professional dan wartawan foto, saya bisa belajar banyak tentang fotografi. Hal itu tidak dapat dipungkiri. Atau bisa jadi dari seseorang yang tidak mengenal fotografi sama sekali. Ya, apa pun bisa terjadi.

Tapi dengan melakukan itu apakah semua harus dilabeli dengan sebuah profesi Wartawan Foto [photo journalist] atau Fotografer [professional photographer]. Label-label itu bukan hanya sekedar membatasi, tetapi juga semacam perintah khusus. Seseorang yang menyukai kamera lalu senang mengambil gambar dan senang mengunggahnya ke sebuah media [apa saja] hanya karena tak ada alasan lain selain karena mencintai apa yang diakukan pada fotografi, lantas harus merubah profesinya menjadi seorang fotografer hingga wartawan foto? Mungkin label profesi pada akhirnya akan muncul belakangan, dimana seseorang akan dengan benar-benar mencintai dan menekuninya hingga akhir. Menampilkan banyak karya karena rasa cinta, itu akan jauh lebih mudah. Hari ini semua orang bisa menjadi apa saja, menyukai apa saja, menekuni apa pun, tanpa batas selama dalam bentuk yang positif. Tidak melulu bergantung pada sebuah label profesi tertentu.

Saya jadi ingat kutipan dari Bapak Ansel Easton Adams salah seorang pelopor bidang fotografi  yang berasal dari Amerika yang juga berprofesi sebagai aktivis lingkungan, yang terkenal dengan portofolio fotografinya Parmelian Prints of the High Sierras, di dalamnya termasuk ada salah satu karyanya yang terkenal dengan judul “Monolith, the Face of Half Dome.” Isi kutipan itu adalah, “You don’t make a photograph just with a camera. You bring to the act of photography all the pictures you have seen, the books you have read, the music you have heard, the people you have loved.” [Ansel Adams]

Sebuah kamera takkan menjadi apa-apa jika kita tidak belajar merasakan sesuatu, membaca sesuatu dan melihat sesuatu atas apa yang akan ditangkapnya. Mungkin kurang lebih begitu.

Saya termasuk yang pernah mencoba belajar semuanya, meski belum dalam tahap sempurna, jauh dari sempurna, tetapi kesemuanya saya lakukan karena saya senang, dan saya bahagia melakukannya, dan takkan pernah bosan untuk terus belajar, hingga akhirnya kini perlahan saya menemukan apa yang benar-benar saya sukai dalam memotret. Saya hanya seorang pembelajar yang menikmati hasil karya fotografi dari berbagai ragam fotografer dalam negeri juga luar negeri, profesional dan amatir, dari fotografer dan non-fotografer, dikenal atau bahkan tidak dikenal sekali pun, tidak melulu foto yang berbicara keindahan alam, manusia, binatang, benda, tetapi juga foto-foto yang membuat kita menahan napas saat melihatnya, ngeri, tertegun, membelalakan mata, menitikan air mata, tertawa, atau bahkan tak merasa apa-apa, hingga sebuah karya membuat kita gelisah, gelisah untuk belajar lebih banyak, berlatih lebih giat, memotret apa yang saya sukai, apa yang tertangkap mata saya, apa yang saya rasakan, apa yang ada di sekitar saya hingga jauh di sana dan bahkan untuk yang belum terjangkau, tidak, [mungkin] tidak untuk menjadi fotografer, atau seorang wartawan, semua dilakukan hanya karena saya menyukainya. Di dedikasikan untuk setidaknya diri saya sendiri hingga akhirnya bisa dinikmati oleh orang lain. Itu adalah nikmat lebih atas apa yang saya sukai, terlebih jika karya saya dapat bermanfaat banyak bagi lingkungan sekitar.

Terima kasih untuk semua suhu, guru, sahabat, kawan, teman, dari berbagai komunitas dan lingkungan pribadi dan bagi siapa saja yang selalu membuat saya belajar tentang sesuatu yang saya sukai selain menulis, yaitu fotografi.

Salam Jepret!

Epiest Gee

 

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s