Mencoba Menulis [Akan Terus Bersambung..]

Aku nyaris tak mampu memejamkan mata. Gaduh sekali malam ini. Decak air keran, detak jarum jam, serta desau angin meruntuhkan keheningan, namun satu yang tak kunjung pecah, rindu.


 

Siang ini kabar terpecah di layar, entah apakah masih sanggup meneruskan atau hanya sampai di sini. Masih lekat di ingatanku tentang kita yang hampir setiap sore menghabiskan senja. Sebelum senja ditandaskan garis cakrawala, kita berjalan menuju bukit. Ya, kita berjalan bersisian, aku yang kerap diam-diam menatap sisi kanan wajahmu beberapa detik, sebelum sorot matamu menangkapku. Menatapmu adalah hal yang ingin kulakukan setiap saat.

Hingga sebuah senja mencipta jarak bagi kita. Entah untuk berapa lama. Kamu sempat berlalu. Mataku menatap panjang pada dirimu yang berlalu, aku memandangi punggungmu dibasuh matahari siang ini. Terik. Daun-daun dijatuhkan angin, menari-nari, dan terdampar di atas tanah menemui takdirnya mengurai di sana. Ia, semakin lama punggungmu semakin menghilang berbaur cahaya. Lalu tak ada. Doa-doa melangit, hingga sebuah mimpi menghadirkan satu musim.

Di musim semi, Kamu datang. Tak pernah hilang, bersama bunga-bunga yang tumbuh, bersama kepak lembut kupu-kupu, bersama angin dingin yang menyapu wajahku. Kamu ada, menitip matahari dan selembar puisi. Kembali. Aku ingin ini nyata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s