Cerita Kecil

Image

Minggu 13 April 2014

Catatan ini awalnya saya tulis pada sebuah buku kecil bersampul biru langit. Di atas sebuah meja bundar, di hadapanku selain buku dan pensil yang saya pegang ini berdiri segelas es krim Sundae dengan saus stroberi. Lalu kemudian catatan ini saya pindahkan ke dalam catatan digital begitu sesampainya di rumah.

Simpang, Dago. Sudah lama sekali saya tak datang ke tempat ini. Kali ini saya datang bersama kawan saya bernama Mega. Setelah hampir beberapa minggu tak bertemu secara langsung, akhirnya tempat ini yang kerap berjodoh dengan kami, meskipun jarang bertemu namun komunikasi masih kami lakukan di jejaring sosial dan pesan pendek. Berbagi kabar tentang apa saja yang ingin kami bagi satu sama lain.

Saat itu pukul tiga sore, langit mulai redup. Tulisan, saya hentikan sejenak untuk mengambil jeda, pinsil berwana hijau botol masih saya pegang dan mainkan di jari tangan, sambil memandangi jendela besar di sisi kanan saya. Orang yang lalu lalang, perempatan jalan, dan tempat parkir mobil. Di balik kaca ini suasana lumayan riuh, tetapi di dalam diri saya ada yang begitu sepi. Lalu entah datang dari mana tiba-tiba pikiran saya teringat panggilan nama seseorang, Gus. Ya, nama itu yang menemani sepi di dalam dada ini. Sambil mengingatnya saya menatap langit yang berwarna abu, mungkin dalam hitungan menit hujan berjatuhan, saya melihat ada satu pesawat yang terbang perlahan menembusi awan. Saya masih sepi. Di temani seorang kawan dan satu nama di dalam dada dan ingatan. Kamu.

Di sela jeda ini saya dengarkan kawan saya berkisah tentang kekasihnya, tentang perjalanan memotretnya bersama sebuah kelompok musik di mana kekasihnya ikut tergabung, juga tentang keinginannya membeli tas punggung baru. Kami saling bercerita, pinsil masih tetap saya mainkan. Gelas es krim belum kutemui dasarnya. Cerita masih panjang namun sepi kian lekat.

Gus, saya ingin sekali memanggil namamu dengan sebutan itu. Seperti kawan-kawan dekatmu itu. Tapi pesan kita semakin jarang, entah sepi, entah menepi entah berhenti. Saya tak bisa memikirkan yang lebih buruk selain [mungkin] berharap-harap cemas seperti apa kita kelak. Saya serahkan saja pada semesta. Ya, tak ada yang lebih baik dari itu.

Pinsil kembali saya gerakkan di atas lembaran demi lembaran, kini namamu yang merajai, perlahan juga wajahmu yang ikut ramai di benak saya. Untuk apa? Saya belum tahu. Sungguh jika kamu tahu, tolong beritahu saya. Perasaan apakah ini? Saya pernah membaca kalimat ini “Di dalam Natya Shastra Bharata Muni menjelaskan tentang [teori] rasa, disebutkan bahwa rasa berasal dari bahasa Sanskerta dari akar kata ‘ras’ atau yang berarti menangis, berteriak, bergema dan berkumandang.” Saya masih belum bisa mengartikan rasa yang sedang saya rasakan di dalam dada ini. Namun rasa ini terus bergema.

Di saat saya sedang menulis, saya sesekali memerhatikan kawan saya yang tengah asyik bersama telepon layar sentuhnya bermain dengan foto-foto dan sesekali ia perlihatkan hasilnya pada saya. Pemandangan itu mengingatkan saya pada telepon genggam yang ada di dalam tas. Saya ambil telepon genggam saya, memeriksa apakah ada satu pesan ‘darimu’ Gus, tapi semua tampak sepi. Tak satu pun untuk hari ini. Tak ada. Selain tanda senyum di tanggal duabelas April, itu yang terakhir, atau mungkin ada yang berikutnya. Entahlah. Saya belum mampu mengawali untuk menyapamu kembali.

Akhirnya saya memutuskan untuk mendengarkan sebuah musik, saya pasang headset pada lubang telinga kanan dan mengalunlah *Mizu Ni Ino Rite, seraya mengingatmu. Dirimu yang berkacamata, yang mencintai puisi, yang mencintai seni rupa, yang menyukai filsafat dan yang mencintai hidup serta keluasannya. Wajahmu yang biasa saja, garis wajahmu kental sebagai seorang yang [mungkin] terlahir di Selatan, dari kesederhanaanmu itu, saya menemukan sesuatu yang lebih dalam di dirimu. Seperti muara, seperti mata air. Seperti cahaya matahari. Seperti kamu.

Gus, hujan akhirnya jatuh. Orang-orang berlarian berlindung dari hujan, awan semakin redup angin bertambah kencang dan seketika berwarna pucat keperakan. Ketika orang-orang tak ingin basah, saya justru ingin menembus kaca jendela yang ada di sisi kanan saya dan menerima air dari awan membasahi saya yang sepi, merelakan rindu terbawa angin bersama derai hujan yang jatuh ke tubuh saya. Saya ingin merasakan hujan tembus ke dalam jantung hati ini. Saya ingin menangis, tapi tertahan karena saya berada di tempat yang ramai. Hanya sesak yang akhirnya saya terima di sini, di dada sebelah kiri.

Gus, ada satu pertanyaan yang ingin saya tanyakan padamu. Mengapa saya? Jika kamu sedang bertaruh, mengapa kamu memilih nama ini, nama yang dimiliki saya. Mengapa? Dapatkah kamu menjawabnya? Semoga kamu mampu memberikan jawaban, sesegera.

Baiklah Gus, itu semua adalah pertanyaan kecemasan saya, kalau seandainya hujan sore ini yang sedang saya pandangi dari balik jendela mampu meluruhkan segala kecemasan tanpa bertanya padamu, mungkin saat ini saya akan berlari keluar, membasuh tubuh ini pada hujan agar segala kecemasan hilang. Takkan memedulikan orang-orang yang ada di sekitar, saya akan membiarkan tubuh ini basah bersama air-air yang berjatuhan di luar sana.

 

Saya hanya bisa membayangkannya Gus, ya, membayangkan saja.

 

Hujan mulai reda, dua kawan saya yang lainnya mengirim sms, bahwa mereka sudah berada tak jauh dari tempat kami berjanjian sore ini. Saya hendak mengambil buku pesanan dari salah seorang penulis Ahda Imran, buku kumpulan puisinya “Rusa Berbulu Merah” yang telah saya pesan jauh hari sebelum saya berangkat ke Jogya, sebelum buku itu diluncurkan di Selasar Sunaryo. Buku itu baru bisa saya ambil sore ini, bersama ketiga kawan saya.

Saya dan Mega akhirnya meluncur ke Kebun Seni, ke Selasar Bahasa, tempat di mana kami janji bertemu dengan Ahda Imran, sekaligus bersilaturahmi dan meminta maaf karena tak bisa menghadiri acara peluncuran bukunya saat itu, karena kebetulan saya, sedang berada di luar kota. Menepi dari segala yang ada di sini.

Sampailah saya dan Mega di Kebun Seni, hujan belum benar-benar reda, kami harus sedikit berlari melintasi lahan parkir yang luas itu untuk menembus hujan, dan akhirnya bertemu dengan sang penulis dan kawan-kawan lainnya. Di sini, kami dengan setia mendengarkan kang Ahda, bercerita tentang awal mula kisahnya sebagai penulis, bernostalgia dengan masa lalu, yang mungkin di antara kami yang mendengarkannya belum lahir di saat beliau memulai profesi atau kegemarannya menulis, tapi dengan khidmat kami setia mendengarkan, apapun yang diceritakan kami anggap sebagai ilmu bagi kami yang baru menjejak di dunia kepenulisan. Di sela kang Ahda bercerita, berbagi pengalaman, ilmu dan lainnya, sesekali mata saya liar di antara rak-rak buku yang dijual di sana. Sayangnya saya tak membawa uang lebih, alhasil saya hanya bisa mencatat-catat dalam ingatan buku apa yang akan saya beli nanti di kedai buku milik seorang Ahda Imran ini. Ya, mungkin saya akan kembali. Nanti bersama kawan-kawan.

Gus, Di sini sudah adzan magrib, yang saya inginkan selain melangitkan doa, saya ingin menatap wajahmu dari dekat. Tapi Tuhan belum mengizinkan saya untuk melihatmu malam ini. Ya, sudahlah saya simpan saja dalam doa.

Usai berdoa, kami memesan mie rebus. Cuaca dingin, perut kami berjodoh dengan mie rebus dan teh hangat karena hanya itu satu-satunya menu makanan berat yang tersedia di Kedai Kebun Seni. Akhirnya mie rebus telur, menemani diskusi kami malam ini. Diskusi yang hangat, segar dan terkadang membuat kami kehilangan kata-kata. Hari Minggu ini lengkap sekali Gus, meski di dalam detak ada yang sedang hilang entah kemana, mungkin sedang rehat atau mungkin takkan kembali, ah saya serahkan pada semesta saja.

Saya pulang, usai adzan Isya. Jalanan tampak sepi. Angkot pertama menuju rumah cukup lama, tapi saya tak begitu takut karena Mega masih bersama saya, kami akan berpisah di jalur berikutnya. Saya berhenti lebih dulu untuk berganti angkot di sekitar Balubur. Di sanalah, di tempat kedua saya berganti angkot, saya merasa ketakutan. Saya merasa sendiri, saya menatap langit yang gelap, saya rasakan ada Tuhan yang menemani, tentu saja. Ah tapi Gus, seandainya kamu di sini, mungkin sudah sejak dari tadi saya memintamu untuk mengantar pulang.

Tapi adalah kita sekarang ini, ribuan kilometer jarak terbentang menjadi pemisah, namun jarak tak membuat sekat bagi perasaan kita masing-masing. Rasa yang melintasi ruang dan waktu. Tuhan yang Maha Sempurna juga semesta yang maha ajaib. Adakah nanti bisa kutatap wajahmu dari dekat? sedekat jarak kedua mata ini di wajah kita.

Kepada [M] F.K.
Jika kau ke kotaku
jangan lupa membawa
jas hujan,
payung hitam
dan sekantung cerita
sekarang,
musim sedang bimbang.

Di sini,
kita akan minum teh sepuasnya
sambil memerhatikan yang melintas di pandangan
entah itu rindu yang dilangitkan
atau
cinta yang diam-diam resah menemukan jalan pulang.

[Ess]

*Instrumen dari Kitaro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s