Matahari dan Kesenyapanku Siang Ini

Image

 

21.03.2014

Jum’at pagi menjelang siang. Matahari rupanya masih betah menghiasi langit, meski sebenarnya ia tak pernah kemana-mana, hanya memberikan kesempatan kepada kawan-kawannya di langit untuk saling bertugas, pada hujan, pada petir, pada awan. Matahari hanya rehat mungkin sedang minum jus jeruk dingin.

Saya melongok ke luar jendela, jalanan sepi, ruang kerja sepi. Ingin pulang, tetapi ini adalah jalan menafkahi hidup, salah satu jalan memberi anak semata wayang nyawa dari jarijemari saya. Ibunya.

Aroma tanah yang masih basah, bercampur dengan aroma teh hangat yang tersaji dari tangan mbak yang bertugas di dapur yang senantiasa melayani saat sedang bertugas menjadi pewangi ruangan yang akan saya rindukan nantinya, dimasa-masa rehat.

“Bu, ini roti bakarnya di makan ya. Nanti kalau butuh teh lagi, panggil saya.” Seraya tersenyum mbak itu berlalu sambil memeluk nampan yang digunakan untuk membawakan saya makanan dan minuman, tanpa pernah saya minta. Semua tersaji begitu saja, dan saya hanya tinggal menikmatinya. Oh! Hidup.

Tempat saya bekerja sekarang, memang menyenangkan. Suasana yang sepi. Pohon nyaris bertebaran di setiap sudut jalan, melewati tembok yang dindingnya disampul dedaunan merambat. Dijangkau dengan mudah dari rumah. Ruangan saya ada di samping ruang tamu, dengan dua meja, satu perangkat komputer dengan mesin cetak dan internet yang bisa digunakan sepuasnya. Satu buah jendela menghadap ke Selatan dengan pemandangan pohon pinus. Beberapa rak buku yang berjajar di luar ruangan, terkadang saya menyentuh buku-buku itu jika pekerjaan sedang lengang. Atau bahkan bisa larut dalam satu buku yang dipilih tangan saya. Bukan buku-buku favorit saya sih. Tetapi cukup untuk menutrisi wawasan tentang pengetahuan apa saja, agar saya tak begitu buta. Agar saya memegang peta.

Di rak itu buku-buku filsafat lebih mendominasi. Tapi rupanya si empunya salah seorang penyuka karya Seno Gumira Adjidarma. Koleksinya nyaris lengkap tentang si penulis senja itu. Setidaknya saya jadi terasa ikut dimanjakan.

Saya tak punya jabatan apa-apa, tetapi entah kenapa saya begitu bahagia dengan pekerjaan ini. Bermain-main dengan lembaran-lembaran data dan kertas yang semakin hari semakin banyak, kata-kata, menyusunnya ke dalam bentuk buku, meski pada akhirnya bukan namaku yang tercantum di sana. Tapi aku tetap bahagia. Tuhan mengizinkan saya menolong yang lain dengan cara ini untuk menolong diri saya sendiri.

Di tempat yang nyaris tanpa keramaian ini, saya seperti menyepi. Tetapi masa-masa inilah yang paling berharga untuk saya. Tak selamanya keramaian menjadi hal yang nampak begitu menyenangkan, adakalanya jiwa membutuhkan sepi untuk melihat ke dalam. Entah apa itu, tapi untuk sekedar memberi waktu dan kesempatan bahwa sebuah jiwa butuh satu penghargaan dari sebuah kesunyian.

Ah, saya ini ngomong apa sih? Entahlah. Tetapi saya bahagia, di sela-sela pekerjaan saya masih bisa memuaskan kegelisahan untuk mencari tahu apa yang ada di benak saya dengan menumpahkannya. Tumpah dalam tulisan kecil ini.

-ess-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s