Sebuah Perjalanan dalam Satu Sajak Sederhana

Sebuah Perjalanan dalam Satu Sajak Sederhana

Sebuah Perjalanan dalam Satu Sajak Sederhana
: Cilacap-Depok

Adalah kamu yang diam-diam,
mengetuk pintu jantungku selepas senja.
Datang dengan senyap ditemani cahaya kunang-kunang.
Sederet huruf mengeja namamu sederhana.

Kubiarkan sederet huruf itu merumah di jantungku.
Membacanya berulangkali, memastikan yang tertulis di sana adalah untukku.
Untukku.

Aku membalas deretan huruf darimu dengan keheningan.
Entah untuk waktu berapa lama hingga buatku tersadar.
Pada malam-malam berikutnya Tuhan menenggelamkan kata kita.
Ada perasaan yang unik datang mengepung detak jantungku.
Aku dikelilingi pasukan aneh.
Meruntuhkan waktu.
Ah! Aku belum mampu membangun rangka perasaanku secepat dirimu.
Mungkin segombal sajakmu itu.

Aku terlalu takut pada masa lalu.
Meski kaca di sisi kanan kiriku sudah pecah sejak lama
untuk sekedar melihat
yang tertingal di belakang.
Pecah oleh tangis hujan di mataku,
yang pernah menganak sungai di bola mata untuk sekian lama.
Hingga akhirnya kering oleh rapalan doa-doa di sebuah musim tanpa nama.

Pada perjalanan ini,
adalah sebuah sajak sederhana darimu yang jadi buah tanganku.
Kusimpan di sini.
Di jantungku yang nyaris sepi. Tanpa nama.
Kubawa pulang sajak sederhanamu.

Aku bawa pulang bersama senyum,
yang pernah kamu minta di sela pertemuan dan percakapan kita.
Senyum untuk matamu di balik bingkai kacamata.

Mungkin,
kamu serupa cinta yang kupikir mustahil; kenangan yang menjadi puisi.

Bandung 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s