Mengenal “Mata” Lensa François Huguier

Image

Oleh Epiest Gee

 

Bandung, 06/11/13. Hidup manusia merupakan rentetan peristiwa dan pengalaman; dari peristiwa rutin harian yang dianggap biasa-biasa saja—sehingga sering tak lagi disebut peristiwa—sampai peristiwa istimewa dan luar biasa, yang karenanya ingin dihadirkan kembali atau mungkin juga ditiadakan. Peristiwa demi peristiwa dialami manusia dalam ruang, waktu, materi dan dalam bingkai (konteks) tertentu untuk kembali dihadirkan dan diperlihatkan sisi lain mata lensa sang fotografer dalam menangkap gejala manusia di beberapa Negara yang ia singgahi. Sedikitnya itulah yang saya tangkap dari diskusi dan pameran fotografi dari François Huguier seorang fotografer dari Perancis yang bertajuk “Vertical/Horizontal – Intĕrieur/Exterieur“ yang sedang berlangsung di Galeri Soemardja – Fakultas Seni Rupa dan Disain Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha No. 10 Bandung, yang berlangsung sejak 2 November hingga 12 November 2013 mendatang. Pameran ini merupakan rangkaian dari kunjungan serta riset berikutnya yang akan dilakukannya di Indonesia yang hendak mengulik tema jilbab di kalangan anak muda negeri ini (sekedar bocoran dari sang fotografer). Sebelumnya pameran ini telah berlangsung di Jakarta pada bulan Oktober, kemudian Bandung dilanjutkan ke tiga (3) kota besar lainnya di Indonesia yaitu Yogyakarta, Surabaya, dan Malang.

Foto-foto yang dipamerkan tergantung pada papan display berwarna putih yang mengelilingi ruangan galeri dengan dua pintu masuk, setiap foto mengunakan bingkai kayu berwarna hitam dengan ukuran berbeda-beda, mengikuti tema diantaranya ada yang berbentuk panjang kurang lebih 150×60 cm, lalu seukuran A3 yang dipasang dengan posisi vertikal atau horizontal juga bingkai berbentuk kotak. Foto yang berjumlah kurang lebih dari 55 bingkai ini tersusun rapi. Pengunjung pameran nampak menikmati setiap bingkai yang terpampang, sebagian besar dari mereka yang datang adalah para pecinta fotografi, komunitas, mahasiswa, umum dan tentunya para pewarta lokal. Rabu siang ini diskusi seputar cerita dibalik proses pengambilan gambar oleh sang fotografer berlangsung santai selama kurang lebih 3 jam di aula galeri. Pertanyaan yang diajukan oleh beberapa peserta juga beragam. Sekitar 30 peserta menghadiri diskusi tersebut. Mengulas tuntas dari tehnik hingga tujuan mengapa diadakan pameran serta motivasi apa yang timbul dari si fotografer pada pameran yang diselenggarakannya.

Membaca Manusia Lintas Asia

François Huguier. Perempuan dengan tubuh tinggi besar, berambut pendek di atas bahu, berkacamata dan berkaos hitam dilapisi kemeja biru gelap, serta celana panjang hitam dan sepasang sepatu kets putih. Ia tampak sederhana sekali siang itu berdiri di depan pintu galeri bersama seorang penerjemah dan kawan saya lainnya yang juga seorang fotografer Vivera Siregar.

François Huguier seorang fotografer yang tinggal dan bekerja di Perancis. Karir fotografinya bermula saat ia bekerja di harian Liberation. Namun, keinginannya untuk menjelajahi dunia tak tertahankan. Ia rutin berkunjung ke Afrika, menyusuri Siberia, Pengunungan Ural, Selat Behring, Afrika Selatan, Kamboja, negara di mana ia pernah disekap oleh Vietminh saat berusia 8 tahun. Kemudian Rusia. Asia Tenggara dan Kolombia. Buku-buku kumpulan fotonya merekam jejak perjalanannya. Ia juga aktif di dunia fotografi fashion dan bekerja untuk majalah-majalah ternama dunia. Seperti Vogue, New York Times Magazine, ID Women’s Wear dan Marie-Claire.

Ia sempat menyutradarai film panjang pertamanya yang berjudul Kommunalka. Film tersebut dianugerahi Penghargaan Anna Politskovskaïa. Beberapa tahun belakangan ini, ia dipercaya menjadi kurator dan direktur artistik beberapa pameran dan festival, baik di Perancis maupun di mancanegara. [dok.galeri.-red.]

Sebagaimana kita ketahui fotografi telah menjadi bahasa universal untuk mengkomunikasikan keindahan dan kecantikan sebuah budaya, tempat, peristiwa dalam suatu Negara kepada Negara lainnya. Lain dengan François, kali ini pada pamerannya yang berjudul “Vertical/Horizontal – Intĕrieur/Exterieur“ lebih menampilkan sisi terdalam atau bagian privasi sekelompok manusia di berbagai negara di Asia. Foto-foto yang dipamerkan adalah foto-foto yang lokasi pengambilannya dilakukan di Bangkok, Malaysia, Singapura dan sebagian kecil ada foto tambahan yang pengambilannya di Al-Jazair dengan latar belakang apartemen-apartemen daerah pinggiran kota, dan kaum masyarakat menengah [menurut versi sang fotografer].

Saat memasuki pintu galeri, ketika mengisi buku tamu saya di sisi kiri pintu, saya disuguhi pemandangan sebuah foto seorang perempuan setengah baya, dengan riasan wajah yang nyaris menor, berbaju rumah dengan warna merah menyala, menatap jelas pada mata lensa kamera sang fotografer, seolah objek juga tepat memandang saya si apresiator. Mata kita dimanjakan oleh foto-foto yang bergambarkan tubuh-tubuh manusia dalam berbagai posisi dengan kisah di dalamnya.

Bagaimana sang fotografer bisa memasuki dunia si objek hingga begitu dalam. Rupanya dia menggunakan pendekatan tertentu. Sebelum melakukan pemotretan, fotografer terlebih dahulu riset dengan menggunakan media jejaring sosial. Dibantu juga oleh beberapa mahasiswa lokal yang bersedia menerjemahkan keinginannya kepada warga setempat yang dia inginkan untuk dijadikan “model” pada proyeknya tersebut.

Ini terwakili sekali, karena hampir sebagian besar foto yang terpampang seperti sudah terkonsep, terlihat seperti sudah dipersiapkan dengan matang pada gaya dan posisi dan bentuknya tetapi tidak melepaskan unsur gerak tubuh yang alami. Saya dan anda akan merasa melihat sebuah adegan-adegan keseharian yang di ambil di setiap negara. Ketika berada di dinding pajang dengan judul BKK [Bangkok], yang pertama menjadi perhatian adalah seorang lelaki tanpa baju bagian atas yang mengenakan topeng robot Jepang berwarna merah. Lalu yang terasa menyentuh adalah ketika melihat foto dengan bentuk horisontal yang didalamnya adalah sebuah pemandangan wajah perempuan di sisi kiri seolah menatap pasangannya yang berada tepat di hadapannya. Namun cara penyajian foto tersebut yang nampak lain dari biasanya. François menyusun tiga foto dalam satu bingkai yang menjadi sebuah kesatuan. Begitu pula foto-foto lainnya yang ada di dinding pajang Bangkok. Lalu berpindah pada dinding pajang KLL [Kuala Lumpur] Foto pertama adalah seorang pemuda yang mengenakan topi laken, dengan sepasang mata yang dilapisi lensa. Riset yang diambil di Kuala Lumpur adalah beberapa anak muda yang sebagian besar menggemari budaya K-Pop [Korean Style]. Lalu beralih ke dinding pajang SIN [Singapura] Diantara ketiga dinding pajang yang ada di ruangan galeri ini. Dinding pajang Singapura-lah yang paling menonjol di mata saya sebagai apresiator dan penikmat fotografi. Saya memandang semua ini dari kacamata yang sederhana, tentunya karena saya hanya sekedar masyarakat yang menikmati fotografi, bukan seorang ahli.

Dinding pamer Singapura memiliki daya tariknya tersendiri. Secara emosional saya dapat merasakan apa yang terpajang di bagian ini. Ada sekitar 16 foto yang tergantung di sana, dengan beragam rupa wajah dan tubuh manusia dalam beberapa pose. Perempuan bertato bunga teratai yang berwarna oranye memunggungi sang fotografer untuk memperlihatkan tatonya. Sepasang kekasih yang tinggal di dalam satu apartemen dan keduanya adalah penyuka tato. Lalu seorang pria yang memperlihatkan bagian tubuh atasnya dengan beberapa tato. Dan potongan-potongan gambar lainnya dengan kekuatan emosional.

 

Sisi Lain

Mengapa Asia, bagi François Huguier ragam bentuk budaya di Asia sangatlah kaya. Konteks kemanusiaan yang juga tercakup di dalamnya menjadi daya tarik bagi diri sang fotografer untuk mengunjungi negara-negara dengan ragam etnisnya.

François mengungkapkan bahwa negara-negara yang menjadi kunjungannya sebagai riset pada projek pameran ini memiliki keunikan tersendiri. Mengenai budaya penyeragaman yang terjadi, jati diri yang beragam dalam sebuah satu kesatuan, serta sisi kekeluargaannya yang dianggap sebagai nilai lebih meski ada beberapa yang diangap kurang layak, di mana satu keluarga utuh tinggal bersama dalam sebuah apartemen, dan hal itu jarang ditemukan atau hampir tidak ada di Negara Perancis. Kondisi-kondisi semacam itulah yang menjadi ketertarikan François menyuguhkan rangkaian hasil karya dalam bentuk fotografi. Membaca manusia melalui lensa menampilkannya ke dalam beberapa bagian untuk ia hadirkan di dalam ruang yang berbeda. Dan ia menghadirkan kesemuanya dalam bentuk Still Life Photography dengan konteks Human Interest. Itulah setidaknya yang saya tangkap secara visual.

Seluruh foto yang terpamer dihasilkan dari jepretan sebuah kamera analog yang dicetak dengan menggunakan tehnik “photo-lab” dengan hasil sesuai keinginan si fotografer. Sederhana, namun mewah itulah keseluruhan foto yang tersaji di ruangan yang berukuran kurang lebih 10×10 meter. Sebetulnya saya berharap sekali setiap foto yang terpamer memiliki sebuah judul. Entah apa alasan François Huguier tidak mencantumkan hal tersebut, dan merangkumnya ke dalam satu kesatuan “Vertical/Horizontal – Intĕrieur/Exterieur“. Pada bagian akhir, kita sekali lagi diingatkan kembali mengenai kaitan antara realitas kehidupan dan realitas sehari-hari yang kali ini disajikan dari perspektif penampil [objek] yang terekam di dalam sebuah lensa.

Pada akhirnya, peristiwa adalah keterlibatan berbagai pihak dengan peran masing-masing [model/masyarakat setempat] sebagai objek dan sang fotografer sebagai subjek untuk menjadikan peristiwa itu sebagai kebersamaan. Karena keduanya saling menginginkan. Dan benang merah—yang  sesungguhnya diserahkan kepada mata sang apresiator. [ess]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s