Mencari Inspirasi di Dalam Sebuah Lemari

Image

Siang selepas dzuhur, aku berjalan menuju lemari buku, yang berjarak satu meter setengah dari kursi tempatku duduk, lantas kuambil bantal berbentuk seekor anjing pipih rata dengan lantai. Aku duduk di atasnya, bersila.

Mataku tertuju pada dua album koleksi perangko sejak jaman sekolah dasar [SD], album besar berwana coklat dan satu lagi album kecil bercorak dalmatian. Perangko-perangko ini dikumpulkan sejak aku kelas 3 SD. Untuk melengkapi koleksi dulu aku mencari perangko ke kantor pos, berdua bersama sahabatku Tusye Agustina. Terkadang berburu ke toko-toko buku langka yang berada di daerah Dewi Sartika, lupa namanya [entah apakah toko itu masih ada sekarang] karena kebetulan aku bersekolah tak jauh dari situ. SD Assalam Bandung.

Beranjak remaja, aku mulai melakukan perburuan perangko di pameran-pameran ‘filatelik’ di kantor pos pusat. Hingga akhirnya memutuskan untuk memiliki seorang sahabat pena dari luar negeri. Untuk sekedar mendapatkan perangko, yah tak lebih dari itu. Bonusnya adalah mendapatkan seorang teman. Dengan bahasa asing yang sederhana, aku mencoba mengirim sebuah surat. Yup, aku mendapatkan sebuah nama, dan alamat di salah satu majalah remaja pada masa itu. Saat itu aku bersekolah di SMPN 34 Bandung yang masih berlokasi di Jalan Tamblong, tepat di depan patung Persib. Klub sepakbola favoritku.

Baiklah, sebuah nama Laura yang tinggal di Rizal. Philipina. Kupilih yang paling dekat dengan negaraku, karena saat itu aku masih ragu mengirim ke negera yang letaknya jauh. Selain takut tak sampai, alasan lainnya adalah mahal. Biaya surat menyurat antar Negara saat itu masih terbilang mahal, apalagi untuk seorang murid kelas 1 SMP. Untuk dapat mengirimkan sebuah surat, kutabung sisa uang jajan selama beberapa minggu. Surat pertama terkirim. Hingga dua bulan berikutnya aku mendapatkan balasan. Senang dan bahagia tentunya. Meski saat itu yang terpikir olehku hanya perangko. Perangko pertama dari luar negeri, bukan hasil berburu atau bekas orang lain yang melakukan surat menyurat. Tapi perangko ini melakukan perjalanannya sendiri antar dua negara yang tertulis untukku. Atas namaku dan alamat rumah orangtuaku. Bahagia sangat bahagia. Surat itu untuk beberapa hari kubiarkan tak kubuka. Utuh. Saking senangnya untuk pertama kali mendapatkan surat dari luar negeri sekaligus asing. Kami saling bertukar kabar, Laura Barret adalah juga seorang pelajar, ayahnya berdarah Amerika dan ibunya Philipina. Kami saling bertukar kartu pos, cerita tentang kota kami masing-masing, dan berteman, aku lupa tujuan awalku untuk mendapatkan perangko. Sekarang aku memiliki teman pena. Hingga akhirnya karena kesibukanku belajar dan aktifitas sekolah aku sempat berhenti melakukan kegiatan surat menyurat. Terakhir kukirim surat pada Laura, namun hingga saat ini tak ada balasan. Mungkin dia sudah pindah karena kabar terakhir ia akan melanjutkan sekolah ke negara tempat ayahnya lahir.

Beranjak kuliah, lalu aku memilih lagi sebuah nama, kali ini bukan hanya saja pada sebuah perangko tujuanku, tetapi teman . Hingga akhirnya aku memiliki beberapa teman pena, Ahsa dari Denmark. Dave dari Polandia.

Yang bertahan berteman denganku adalah Dave Renton. Seorang guru bahasa Inggris dari Polandia yang berdarah Polandia dan Canada, yang suka sekali bepergian. Suatu waktu, ia pernah menjelajah Amerika Utara, selain perangko yang kudapatkan dari berbagai tempat  ketika menjelajah berdatangan juga kartu pos serta berlembar-lembar  foto dalam betuk cetak tentunya tentang apa yang dia lakukan dan apa yang dia lihat selama perjalanan. Saat itu  E-mail masih sangat langka. Ada hanya untuk orang-orang tertentu saja karena biaya memiliki sebuah jaringan internet masih mahal. Warnet-warnet pun tidak seramai dan sebanyak sekarang. Ya, menjelang akhir tahun 1999 segala sesuatu yang bentuknya digital dan maya masih sangat mahal. Meskipun sudah mulai kugunakan untuk beberapa tugas mata kuliah.

Tapi aku lebih tertarik mengirim surat, ya surat dalam bentuk sesunguhnya. Maka mengalirlah surat yang diantarkan setia pak pos tua, “Neng, ini surat dari Polandia.” “Neng, kali ini dari Vancouver, Canada. Jauh neng eta teh?” “Yeeuhh, neng ayeunamah geuning ti Ontario, Canada keneh?” “Tah, ayeuna ti Busan, Korea!” begitulah ragam ucap seorang bapak tua petugas kantor pos yang setia mengantar surat atau kartu pos dari berbagai Negara. Itu sebagian aku terima ketika aku sedang berada di rumah, entah apa yang dia sampaikan jika surat itu yang menerima anggota keluargaku. Hanya satu yang pasti, aku senang mendapat kabar, kartu pos sekaligus sebuah perangko.

Kembali dengan banyak kesibukan. Kegiatan itu terus berlanjut hanya dengan seorang teman pena saja sampai sekarang. Dave. Ia pindah dari Polandia memutuskan untuk mengajar di Canada, lalu kemudian pindah ke Busan, hingga akhirnya ia menikah dan menetap di Inggris. Bersama istrinya yang bernama Nathalie. Pertemanan kami sangat menyenangkan. Baik dan terpelihara. Pertemanan yang timbul hanya karena sebuah benda kecil bernama “perangko”.

Perangko-perangko ini memiliki sejarahnya, baik yang kudapatkan dari hasil surat menyurat, juga perangko yang kudapatkan dari hasil tukar menukar dengan teman sesama pengumpul perangko, atau biasa disebut dengan filatelis, aku cukup menyebut diriku pernah mengumpulkan perangko, aku bukan filatelis.

Selain itu aku juga pernah memiliki kesempatan berada di sebuah Negara tetangga, karena saking senangnya aku menyempatkan diri untuk pergi ke kantor pos setempat hanya untuk mengirimi diriku sendiri sebuah kartu pos dan tentunya keluargaku di Bandung, Haha! Terlihat konyol memang saat mengirimi diriku sendiri, but I found my own excitement wrote my own postcard out of my country.  Simply but splendid!

Aku yakin perangko-perangko yang kukumpulkan melalui hasil perburuan di beberapa pameran juga memiliki perjalanannya sendiri, memiliki kisahnya masing-masing, menyimpan banyak misteri yang akhirnya mereka titipkan pada tanganku untuk kusimpan semua cerita di balik perangko-perangko itu. Seperti halnya perangko yang kudapatkan dari perjalanan kisahku sendiri.

Perangko-perangko ini akan tetap kusimpan. Mungkin akan ada kesempatan untuk kutambah. Kisahnya tersimpan dibalik rupa ragam bentuk dan warna. Kisah yang suatu saat akan mengalir kuceritakan pada putri kecilku.

Kusimpan kembali dua album perangkoku ini. Kututup pintu lemari buku. Sebuah perjalanan bisa tersimpan hanya dalam bentuk benda kecil. Aku berdiri. Mengembalikan bantal berbentuk anjing pipih ke kursi plastik. Aku keluar kamar, menyeduh secangkir teh hangat dan menikmati beberapa butir oreo goreng kreasi dapur keponakanku. Sabtu yang begitu syahdu. Kenangan saling berlarian di depan mataku.

09.11.13
-ess-

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s