Kumatikan Sunyi

Tipi sudah dimatikan. Komputerku masih saja menyala, perlahan suaranya semakin bising terasa di telinga. Aku seperti naik pesawat yang baling-balingnya tepat di sisi gendangku. Sesunyi inikah malam menebar sepi?

Tumpukan buku, kamus, referensi, panduan seolah menertawakanku. Cakram optik yang bertebaran di atas meja, pun ikut geli melihat aku yang semakin asyik mendengarkan bunyi-bunyian dari mesin komputerku. Jam tangan, telepon genggam, gelas pinsil, bola kaca, kacamata, juga potret diriku yang memangku anakku ikut tersenyum. Aku memerhatikan mereka, mereka memerhatikan aku. Sementara telinga lekat pada bunyian yang semakin nyaring. Sesunyi inikah malam melantunkan sepi?

Bingkai foto, kalender duduk, botol pesan, mesin printer, dan gelas minumanku juga membentuk lengkung di bibirbibir mereka. Aku hidup, lalu mereka juga hidup.

Kulirik dinding sebelah kanan, yang sedang tertidur hanya detak jarum jam. Suara mesin tetap menyala mengikuti tuannya.

Sesunyi inikah malam menikam rindu di hatiku?

November ’13

-ess-1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s