Untuk Vague dan Cappucinored

Dari Sebuah Layar ke Jabat Erat

Sebagai penikmat puisi, dan sastra serta kata tentunya merasakan euphoria tersendiri ketika kita bisa menikmati hasil karya para sahabat. Terutama sahabat yang kita kenal, dengan cara apapun kita berkenalan dan dikenalkan. Kali pertama mengenal si penulis ketika saya tergabung melalui sebuah grup fotografi yang bernama Rumah Kayu Fotografi. Dari sebuah karya foto tematik yang ditampilkan di grup tersebut kami saling berkenalan, saling menambah ilmu di bidang fotografi, dari komentar mengenai foto yang ditampilkan, pujian, sekedar candaan komentar konyol, dan komentar serius hingga akhirnya berakhir pada kesukaan kami masing-masing di bidang lainnya yaitu sastra menghadapkan kami sebagai seorang teman hingga menjadi sahabat dunia maya. Di bulan Maret tahun 2012 adalah kali pertama saya bertemu dengan si penulis, yang sebelumnya kami hanya berkomunikasi melalui sebuah situs jejaring sosial.

Saat itu kuingat betul, penulis mengenakan jaket hitam dan bertas punggung merah, awal pertama bertemu ketika melakukan ‘street hunting’ yang kebetulan diadakan di Bandung, di awali dari sebuah Minggu pagi di Hyper Paskal Bandung tempat kami berkumpul untuk akhirnya berjalan mengikuti sang suhu yang memimpin perburuan ini, dari tempat kami berkumpul kami menelusuri kawasan Saritem dan Kelenteng lalu Stasiun Ciroyom dan kembali ke Hyper Paskal dengan jalan kaki. Anggota yang mengikuti acara hunting bersama saat itu sekitar kurang lebih 30 orang dari berbagai kota. Senang bisa berkenalan dengan para anggota yang selama ini awalnya hanya kita ketahui melalui sebuah grup di dunia maya. Dan salah satunya bisa berkenalan dengan si penulis manis ini, saat itu aku membawa serta putriku Gadiza dalam acara hunting tersebut. Akhirnya dari sebuah layar tercipta jabat erat di antara kami berdua, si para penikmat sastra, kata dan fotografi.

 

Sosok yang Hangat

Windri Fitria, sejauh yang kuketahui adalah seorang guru salah satu sekolah dasar di daerah Cimahi. Selain kegiatan ajar mengajarnya, dan kecintaanya pada sastra dirinya juga adalah pecinta ‘perjalanan’ dan fotografi. Dari media sosial saya sering mengikuti perjalanannya mengunjungi alam-alam Indonesia. Salah satunya dari mulai yang terdekat Kawah Putih, Dieng, Rinjani, Ujung Kulon, Aceh, Medan dan beberapa tempat lainnya.

Sebagai salah seorang sahabat, saya salut dengan kegiatannya menaklukan alam Indonesia. Perempuan mungil yang berwajah manis dan bersahaja ini selalu merekam jejaknya melalui sebuah lukisan cahaya juga kata-kata. Tak ada yang berlebih dari apa yang disampaikannya, semuanya serba sederhana. Tetapi si pecinta hujan ini mampu menyampaikan apa yang ingin dirinya sampaikan melalui sebuah potret yang bernarasi imaji. Belakangan kuketahui tak selamanya kata-kata yang mengalir lahir dari pengalaman empirik, terkadang itu lahir dari curhatan sahabat, inspirasinya dalam membaca kisah di seputar lingkungannya, dan juga hal-hal lainnya yang mampu menariknya untuk berkarya.

Perempuan berkerudung ini selalu menebarkan senyum ketika berikutnya bertemu di salah satu acara hunting di bulan Mei di tahun yang sama, kami berkesempatan bertemu di sebuah stasiun di daerah Padalarang, untuk menuju stasiun Cianjur, di media sosial kami sering bertukar pendapat mengenai sebuah narasi ringan berawal dari saling mengometari “status” kami. Lewat itulah tercipta kedekatan di antara kami si pecinta kata-kata. Kuingat matahari masih hangat kuku, lalu lalang para pengunjung stasiun tak menyurutkan kami untuk memiliki sebuah percakapan singkat dengan ketenangan, kami yang untuk kali kedua bertemu, duduk di pinggiran rel, bertanya soal kabar, lalu bertanya soal si kecil yang tidak kuajak untuk ikut hunting saat itu, hingga kemudian membicarakan tentang keinginannya untuk melahirkan sebuah karya dengan independen. Aku seperti menemukan seorang adik perempuan lainnya, ya begitulah alam mempertemukan dengan segala partikelnya, dari asing, hingga sedekat ini. Dari sebuah layar berukuran 17 inchi hingga ke tatap nyata.

 

Dan Karya Lahir dari sebuah Kecintaan

Kecintaannya pada alam Indonesia juga pada tulisan serta fotografi membawanya melahirkan sebuah karya dari tangannya dengan begitu anggun, buah karyanya bernama “Vague” buku yang terdiri dari 82 halaman bercerita tentang ke-samar-annya yang penafsirannya dimiliki dan dihasilkan secara berbeda-beda oleh setiap si pembaca buku ini. “Vague” yang juga dalam bahasa Indonesia memiliki banyak arti, absurb, abu-abu, samar, bias dsb, keterangan judul yang diambil itu sendiri tertulis pada halaman 79.

Lain dengan buku-buku puisi lainnya yang terlebih dahulu muncul buku ini menampilkan narasi yang kata-katanya serta bentuknya menyerupai Puisi, namun saya masih belum berani mengatakan bahwa yang terdapat di dalam buku ini adalah Puisi atau Sajak, sepanjang pengetahuan saya ciri-ciri kebahasaan Puisi memiliki enam elemen, yaitu pemadatan bahasa, pemilihan kata khas [metaphor], kata konkret, pengimajian, irama [ritme] dan tata wajah. Serta elemen lainnya yang harus dimiliki oleh puisi adalah tema, nada dan suasana, perasaan juga amanat atau pesan apa yang akan disampaikan. Tetapi kata-kata bisa berbentuk apa saja, dan lahir sebagai apa saja dari si penulisnya, karena penilaian lahir dari para pembaca.

Buku yang berbentuk kotak ini, dengan jenis isi kertas cendana dan bersampul modern hasil karya dari Caesar Resi Lot Octodema mampu membuatku larut untuk membacanya berulang-ulang. Memaknai setiap narasi yang berdampingan dengan sebuah nuansa berbeda-beda dalam foto hitam dan putih.

Ada yang aneh memang di lembar ketiga pertama, kubaca bagian kata “selalu ada warna tetapi sebuah perasaan adalah hal yang tak bisa kita perkirakan”. Di sini disebutkan selalu ada warna, kata “ada” di sini tidak terwakili sama sekali dalam bentuk fotonya yang menjadi bagian dari isi buku, namun foto-foto hitam putihlah yang menghiasi setiap narasi, bagi saya hitam dan putih bukanlah bagian dari warna, tetapi setelah berkali-kali membaca buku ini sejak pertama kali berada di tanganku pada awal bulan Juli, 2013 saya lupa kapan tepatnya buku ini sampai.

Akhirnya saya menemukan warna-warni sendiri, warna-warna yang tidak terwakili ke dalam bentuk apapun di dalam foto di buku tersebut, tetapi warna-warna yang muncul dibenak saya sebagai pembaca ke dalam bentuk perasaan. Saya bisa berwarna sangat biru ketika membaca beberapa narasi pada bagian Kita, dan Sepotong : Apologia. Di bagian ini ke”vague’annya sangat terasa, menciptakan kesedihan yang samar hingga kesedihan terdalam saya jatuh pada sebuah judul “Arah” di halaman 31.

Arah

 

Arah,

Terkadang kita butuh menghela untuk menentukan arah

Ada kalanya, saat tertentu

Menjadi titik balik kita memutar arah

Arah

Arahkan hatiku pada hela yang tak lama untuk melangkah

 

Membaca karya tersebut membuatku merenung, memikirkan apa yang sudah saya lewati. Arah adalah tujuan setiap manusia dalam menghadapi apapun. Kita tidak bisa berdiam diri pada satu titik, maka melangkah adalah solusi berikutnya. Warna yang sangat sederhana, tetapi itu mampu membuat saya terhenti sejenak, sudahkah saya menentukan langkah?

Penulis, si pecinta hujan dan senja ini, kerap menuliskan kata “hujan” di setiap narasinya. Hujan adalah kata yang memiliki kekuatan magisnya tersendiri. Tak luput penulis kerap menuliskan hujan pada beberapa narasi juga pada karya foto yang mendampingi.

Begitupun ketika saya berpindah ke bagian berikutnya Aku, Kamu, dan : Bahagia, di sini si penulis mampu menghadirkan warna yang dihasilkan ke dalam bentuk lainnya saya wakili ke dalam warna merah muda dan ungu atau violet di sini kita akan dihujani kata-kata “hujan” dan saya merasakan ketenangan juga senyum setelahnya. Tak lupa salah satu minuman kesayangan yang bernama Teh hadir di bagian ini, jatuh di halaman 47.

Teh

Sore selepas hujan

Aku berdiam

Menata hati

 

Berdiri menatap ujung jalan dari balik tirai jendela

Mataku tak henti menatap daun pintu berwarna cokelat itu

 

Secangkir teh hangat sudah habis setelahnya

Halaman buku sudah tergerus oleh waktu

 

Aku menarik kursi dan menatap ke depan

Hanya diam

Dan menata hati

 

30 menit lagi, katamu

 

Aku diam dan menunggu dalam diam

Senja, secangkir teh hangat, dan kedatanganmu

 

Dan yang paling menohok di bagian ini menurut saya adalah karya yang berjudul Aku, Kamu dan Rindu di halaman 61, dan Pemberani di halaman 63. Entahlah ke-puisi-annya sangat terasa di sini, dibandingkan pada narasi-narasi lainnya yang ada di dalam buku ini.

 

Sederhana, tetapi itulah yang membawa kita pada banyak warna. Bahagia akhirnya bisa menemukan buku yang mampu menemani kita menemukan banyak hal. Semisal, timbul keinginan saya untuk menjelajah negeri ini, dalam ke-samar-annya Vague mampu menampilkan sisi lain sebuah foto perjalanan. Berbeda dengan buku-buku perjalanan yang pernah saya baca dari penulis-penulis lain misalnya yang sedang banyak dibicarakan para “backpacker” muda di Indonesia adalah buku A Life Traveler dari Windy Ariestanty dan juga buku lainnya dari Gol A Gong yang mengisahkan tentang Travel Writer juga buku dari Silvia Galikano yang berjudul Bukan jelajah Biasa ketiga buku tersebut yang pernah saya baca memang lahir dari para penulis yang memiliki latar belakang jurnalis, mereka menuliskan kisah perjalanan dan fotonya ke dalam bentuk yang lebih bercerita dan bernuansa deskriptif bagi si pembacanya. Sehingga kita bisa seolah-olah ikut ke dalam perjalanan tersebut.

 

Lain dengan Windri, buku foto narasi ini mampu membawa kita si pembaca ke pada alam mana saja. Tanpa batas.

 

Dengan segala kelebihan dan kekurangan buku Vague, saya yakin kemajuan sastra di Indonesia semakin nyata. Penulis-penulis muda yang berpotensi saling menampakkan diri dengan segala cara. Yang agak menjadi pertanyaan bagi saya pada buku ini adalah, mengapa tidak ada “daftar isi”? Entahlah, apakah ini sengaja dibuat seperti ini agar membuat si pembaca penasaran dengan apa yang tersaji di buku tersebut atau memang terlupakan. Kembali, segala sesuatu memang tak pernah luput dari kekurangan. Namun karya adalah karya, sejatinya karya lahir dari kebersahajaan. Maka Vague karya dari Windri Fitria [Cappucinored] terlahir untuk kita nikmati.

Selamat datang Vague, mari ramaikan dunia kata di negeri ini.

 

 

Salam Hangat dan Jabat Erat dari si Penikmat Kata

Epiest Gee

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s