14

Mimpi dan Mimpi

Percaya pada 5 cm di depan kening kamu. Adalah kalimat yang terpampang di akhir sebuah film yang diangkat dari novel karya Donny Dirgantoro. Kebetulan Sabtu malam saya menonton film tersebut yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta, bersama ketiga keponakan saya saat itu. Saya tidak akan membahas film tersebut, namun saya terus teringat hingga mencatatnya kalimat yang saya tulis di awal catatan ini. Mimpi. Semua manusia memiliki mimpi. Tak tergantung takaran mimpi itu tinggi atau rendah, atau bahkan mimpi yang mustahil sekalipun. Tapi sekeras apakah manusia mewujudkan mimpi-mimpi mereka menjadi kenyataan. Hingga benar-benar ada di depan mata mereka, bukan sekedar menggantung, tetapi menyentuhnya, merasakannya, ada. Benar-benar ada.

Mimpi, begitupun saya memiliki salah satunya, setidaknya satu atau tiga diantaranya adalah mimpi-mimpi yang berusaha saya wujudkan. Tiga tahun terakhir ini saya mencoba berusaha mewujudkan mimpi saya untuk memaksimalkan kamera ‘poket’ saya untuk dapat menangkap sebuah peristiwa. Baik itu peristiwa terserak yang bahkan tidak terpikirkan manusia lainnya, atau peristiwa yang terjadi di dalam kegiatan saya sebagai penikmat sastra, teater, dan fotografi, ke dalam bentuk yang sederhana, sangat sederhana. Lalu mimpi saya di dunia menulis, berusaha mewujudkan sekumpulan tulisan yang kebanyakan orang menyebutnya puisi, gabungan puisi dan foto seperti yang sudah dilakukan kawan menulis saya, yang saya kenal dalam kegiatan fotografi, Windri Fitria. Dua tahun lalu sebenarnya saya telah merencanakan membuat buku fotopuisi bersama seorang kawan dekat, namun ke-duapuluh puisi itu kini hanya mampu berkamar di dalam sebuah file di komputer hitam ini. Mimpi yang masih belum terwujud, tetapi diyakini bahwa mimpi itu bisa tersentuh, ada dan nyata, mungkin bukan hari ini. Tetapi akan ada sebuah hari yang terpilih dengan segala kesederhanaan dan kebersahajaan yang ikut hadir bersamanya.

Lainnya adalah mimpi memaksimalkan si kupu-kupu hitam milikku. Sebuah mesin jahit yang kubeli sekitar 9 tahun yang lalu dengan uang hasil keringatku sendiri. Mesin yang sederhana namun selama sembilan tahun ini kerap menghasilkan sebuah karya yang kerap dicintai peminatnya.

Kembali pada semua mimpi itu, saya percaya Tuhan menitipkan kedua tangan yang dingin ini untuk menyempurnakan kedua kaki saya yang sederhana. Mimpi menaiki tangga tanpa sebuah pegangan sudah barang tentu tidak akan pernah terwujud, tetapi saya yakin akan ada sebuah tangan yang setia menggenggam tangan saya untuk menaikinya.

Tanpa kedua tangan ini, mungkin yang hadir adalah mimpi-mimpi lainnya. Tak ada yang sia-sia yang Tuhan ciptakan untuk setiap manusia. Berusaha dan teruslah bermimpi untuk mewujudkannya. Sesederhana apapun itu, ya sesederhana apapun itu. Sebaik kita menghela napas yang setia kita hirup untuk terus bersyukur. Dan mengiringinya dengan terus menjadi diri kita sendiri.

Bermimpilah untuk berusaha mewujudkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s