Sebuah Surat Kecil Untuk Diriku

Tigapuluh empat tahun yang lalu, aku terpilih Sang Pencipta untuk bertugas di dunia ini, masih entah sebagai apa, dan entah hingga sampai kapan. Namun hidup dan mati adalah kepastian.

Pertama kali tangisku memecah di angka yang dipilih Allah untuk hadir, sebuah angka yang selalu menemaniku. Angka tujuhbelas. Bulan September, dan huruf “S” bukan berarti super, tetapi kedua orangtuaku memilih nama Siti dan Sopiah sebagai pelengkap nama awalku Epi.

Aku seorang perempuan. Pun, aku seorang ibu. Tugasku sebagai istri terhenti di tahun ke-enam. Allah memilihku untuk terus berjalan, namun takdir tak mampu aku tahan. Allah memiliki kehendak, dan aku tak mampu menolak selain menerima. Hatiku meretak, tetapi takkan kubiarkan hancur. Surah-surah Allah menemaniku, melewati yang terberat. Surah-surah menemani retaknya jantungku, kehilangan separuh detak yang pernah menyatu, yang disucikan atas sebuah sumpah “Laaillahailallahhu…” ketika janji-janji mengudara di tanggal yang terpilih membentuk 30.

Surah pertama, menemani bahwa aku tak sendiri. Surah ke-tigapuluh dua, meyakinkanku betapa kitab suci ini adalah tak lain sebagai penyembuh lukaku, surah ke-tigapuluh enam membawa jantungku kembali utuh, surah yang menjadi jantungnya kitabku, ketika Sang Khalik yang Maha Hidup tak pernah meninggalkanku, surah ke limapuluh lima membuatku yakin, segala bentuk airmata, luka, senyum, siang malam, ada dan tak ada hadir sebagai hidup, mengingatkanku betapa ‘nikmat mana lagi yang engkau dustakan?’ jika pasanganku pergi maka itu adalah ketentuan Allah, maka kubaca pasangan kitabku yang Allah turunkan, surah ke-limapuluh enam, membuatku aku tak merasa ‘jago’ atau mampu melewati ini semua tanpa nikmat yang Allah atur untuk diriku, dan surah ini membuatku mampu melewati hari demi hari tanpa si pemberi nafkah, karena Allahlah Sang Pemberi, dan surah ke-seratusdelapan adalah surah kesayangan yang menjadi cinta dan penghibur hati sepanjang hidup hingga Allah menghentikan napas ini.

La tahzan Epi, airmata takkan pernah kering, ia akan hadir di antara apa saja, dan bukan untuk sekedar luka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s